“SMA FOKUS PADA PROGRAM AKADEMIK”

Laporan : Sulis Jurnalis

Kian hari pengangguran kian memadati bumi pertiwi. Daalm setiap tahunnya, ribuan jebolan alumni perguruan tinggi mulai berpikir untuk mengais rejeki dengan memanfaatkan ilmunya. Namun masih saja berhamburan alumni S1 bahkan S2 sekalipun, tetap menjadi pengangguran (tunakarya) di negeri ini. Bila sarjana banyak yang menganggur, lalu bagaimana dengan alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) dan SMK?.
Tebiarnya alumnus SMA dan SMK yang tidak punya pekerjaan, tetap saja akan menambahh barisan panjang deretan pengangguran intelektual di Sumatera Selatan. Belum lagi, beberapa perusahaan membutuhkan alumni yang siap kerja, mampu mengoperasikan peralatan kantor, peralatan produksi, teknologi, mesin, otomotif, dan mampu memerankan diri dalam pekerjaan di bidang lain yang telah tersedia di perusahaan. Semuanya menuntut calon tenaga kerja untuk memiliki life skills (keterampilan hidup).
Didasari itu, Mendiknas Prof Bambang Sudibyo, memunculnya kebijakan pendidikan menengah diarahkan pada meningkatnya proporsi SMK dibanding SMA. Kebijakan ini kemudian mengundang berbagai kontroversi. Secara tidak langsung kebijakan yang telah diungkapkan Bambang ini masih terlalu sulit untuk diwujudkan. Doni Koesoema, salah satu aktifis blogger pendidikan menyebutkan, sebuah keyakinan keliru bahwa Indonesia akan dapat bersaing di dunia global jika dapat mengubah SMA menjadi SMK. Mengubah proporsi SMA menjadi SMK hanya akan memosisikan daya-daya manusiawi Indonesia pada posisi paling bawah dalam dunia industri global. Sedangkan untuk mampu bersaing, yang dibutuhkan adalah akses setiap siswa pada pendidikan tinggi dan akademi teknik, politeknik yang murah dan terjangkau.
Hubungan antara keterampilan yang diperoleh melalui SMK, menurut Doni, terpenuhinya kebutuhan kerja yang diandaikan begitu saja merupakan sebuah kebijakan yang keluar dengan tidak mendasarkan diri pada kenyataan lapangan. “Terserapnya tenaga kerja itu tergantung pada ketersediaan kesempatan kerja. Dan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah menciptakan lapangan kerja, dan bukan mengubah SMA menjadi SMK,” Doni setengah protes.
Sementara, Untung Gutmir, MM, Kepala Sekolah MAN 2 Palembang menyebutkan, dirinya setuju dengan kebijakan tersebut, mengingat saat ini setiap sekolah menengah atas merupakan sebuah taraf belajar yang seharusnya telah dibekali keahlian tertentu. Gagasan Mendiknas ini, untuk mengantisipasi kondisi siswa setelah lulus SMA atau SMK, agar mereka tidak menganggur. Dengan adanya bekal keterampilan (life skill) diharapkan mereka akan mampu bekerja, maupun melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi bagi yang memiliki biaya. Namun bagi yang tidak mampu bisa memanfaatkan keahliannya yang didapat dari SMK atau SMA, untuk memenuhi kebutuhannya,” jelas Gutmir kepada Sulis dari PRESTASI gemilang pekan silam.
“Untuk mampu bersaing dengan sekolah lain, dan membekali siswa akan keterampilan maka MAN 2 Palembang memberikan pelatihan Paskibra dan meng-efektifkan pembelajaran mengenai Bahasa Arab dan Inggris. Kami melakukan ini untuk memberikan keterampilan bahasa bagi setiap siswa, agar kelak bisa dimanfaatkan,” lanjutnya. Sedangkan untuk menambah keterampilan berupa life skill terasa masih jauh dari perencanaan. Sesuai dengan data alumni yang telah diserahkan, 50% lebih alumni MAN 2 Palembang melanjutkan di perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang ada di Indonesia. Sedangkan yang mencoba bekerja dan berhasil hanya mencapai 30% dan sisanya belum diketahui kejelasannya.
Sejalan dengan pendapat diatas Darmi Hartati, MM, Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Palembang justru menganggap kebijakan tersebut tidak terlalu berpengaruh pada program yang dilaksanakan di sekolahnya (SMA). “Bagi kami, kebijakan tersebut sama sekali tidak berpengaruh, apalagi untuk memberikan keterampilan atau life skill. Itu kan bukan porsi SMA, sedangkan sekarang kami tetap akan mengefektifkan pembelajaran untuk akademi dan memberikan pembekalan imtaq yang kuat, mengingat alumni harus memiliki kemampuan intelektualitas tinggi dengan pengetahuan agama yang bagus sehingga bisa diterima di perguruan tinggi yang berkualitas. Jadi kami harus mempersiapkan itu,” tegasnya.
“Seorang yang bagus dalam kualitas imtaqnya tentu mereka berprestasi dan itu telah terbukti di SMA 6 ini. Namun mengenai keterampilan atau life skills itu kami masukkan pada mata pelajaran muatan lokal (mulok), yang berisi tentang keterampilan memasak khas palembang dan seni menyulam. Untuk keterampilan yang berbentuk life skill itu tidak ada si SMA ini, mengingat itu memang bukan porsi kami,” ujarnya.
Lain halnya dengan Winda, salah satu alumni tahun 2006 SMKN 6 Palembang lebih memilih untuk menyalurkan keterampilan yang telah didapatnya dari sekolah. “Sejak mulai sekolah di SMK 6, saya sudah memiliki rencana untuk mengembangkan usaha salon, kebetulan Ibu saya memiliki keterampilan tersebut. Akhirnya saya memilih jurusan keahlian tata kecantikan rambut. Setelah saya lulus, berbagai keterampilan mengenai pemotongan dan tatarias rambut akan saya terapkan dalam usaha saya nanti,” ungkap gadis berpostur tinggi ini.
Di tengah pro dan kontra kebijakan Mendiknas itu, ada juga sekolah setingkat SMA yang mencoba menggabungkan ketiga konsep tersebut. Seperti halnya MAN 3 Palembang, yang telah mencoba untuk memberikan pembekalan ilmu agama, ilmu umum dan keterampilan yang berupa elektro dan menjahit. “Untuk menjadikan Madrasah ini sebagai lembaga pendidikan yang terbaik dan unggul, sangat disadari bukanlah pekerjaan mudah, tetapi kita tidak memiliki pilihan lain, MAN 3 Palembang harus tampil berkualitas, mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang dinamis dan mampu menyejajarkan diri dengan sekolah-sekolah lain yang telah lebih dahulu eksis menjadi pilihan utama masyarakat,” ujar Zainuri, Kepala Sekolah MAN 3 Palembang (*)

WAJAH KUSAM PENGANGGURAN DI SUMSEL


Potret pengangguran dan kemiskinan memang tak kunjung henti. Bukan saja di daerah, melainkan sudah menjadi persoalan nasional, yang berpuluh tahun umurnya. Kemiskinan dan pengangguran, merupakan dua kenyataan yang keduanya muncul hampir selalu bersamaan. Kemiskinan yang kemudian mengakibatkan pengangguran? Atau pengangguran yang menimbulkan kemiskinan? Agak sulit menjawabnya, sebab keduanya sering muncul seperti pantun bersahut. Di satu pihak, keluarga menjadi miskin karena anggota keluarganya menganggur, dan di pihak lain, orang menganggur akibat lahir dari keluarga miskin dan tak mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan yang layak. Sama persisnya menjawab pertanyaan mana yang lebih dulu, ayam atau telur?
Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, sebagaimana dilansir beberapa media di Palembang, jumlah angkatan kerja di Sumsel per Februari 2009 lalu, mencapai 3.487.999 orang. Angka tersebut bertambah 15.987 orang dibandingkan jumlah terakhir pada Agustus 2008 yang mencapai 3.472.012 orang. Jika dibandingkan Februari tahun lalu (2008, red) telah terjadi penambahan angkatan kerja 33.688 orang dari angka 3.454.311 orang. Kabid Statistik Sosial BPS Sumsel, Dra Dyah Anugrah K mengatakan, perhitungan kondisi ketenagakerjaan di Sumsel mengikuti aturan ILO. Survei data dilakukan dua kali dalam setahun, yakni per Februari dan Agustus. “Yang jadi referensi adalah kondisi seminggu sebelum pencacahan,” jelasnya. Seseorang yang bekerja minimal 1 jam dalam seharinya selama 7 hari berturut-turut sudah bisa dikatakan bekerja.
Untuk jumlah penduduk Sumsel yang bekerja sendiri mencapai 3.195.765 orang. Atau bertambah 4.410 orang dibandingkan kondisi Agustus 2008. Jika dibandingkan jumlah per Februari tahun lalu sebanyak 3.162.257 orang artinya terjadi penambahan jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 33.508 orang. Bagaimana dengan kondisi angka pengangguran di Sumsel?
Dyah menjelaskan, angka pengangguran Sumsel per Februari 2009 terjadi peningkatan cukup banyak, yakni sebesar 11.577 orang dari 280.657 orang, pada Agustus 2008 menjadi 292.234 orang pada Februari 2009. Dibandingkan Februari tahun lalu, hanya terjadi peningkatan 180 orang. “Kondisi ini memang tidak bertahan lama, karena masyarakat kita tidak seperti di Amerika Serikat di mana pengangguran dapat santunan dari negara. Makanya, tidak ada yang tahan untuk menganggur,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dyah mengatakan, dengan jumlah pengangguran yang ada, tingkat pengangguran terbuka jika dihitung per Februari 2009 mencapai 8,38 persen atau mengalami peningkatan 0,3 persen dibanding kondisi Agustus 2008. Namun, jika dibandingkan Februari tahun lalu terjadi penurunan sekitar 0,07 persen. Dan selalu saja, tingkat pengangguran terbuka untuk kaum wanita lebih tinggi dari kaum pria. “Terhitung Februari 2009, tingkat pengangguran terbuka kaum wanita mencapai 9,44 persen, sedangkan kaum laki-laki hanya 7,74 persen,” tukas Dyah. Dari total pengangguran di Sumsel, sebagian masuk kelompok setengah pengangguran. Jumlahnya mencapai 1.128.446 orang atau sekitar 32,35 persen. Artinya, dari 100 angkatan kerja, sebanyak 32 orang hingga 33 orang mempunyai jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Situasi ketenagakerjaan Sumsel per Februari 2009 lalu, ditandai dengan meningkatnya jumlah pekerja secara absolut hampir di seluruh sektor, kecuali sektor pertanian dan konstruksi.
Persentase terbesar penduduk laki-laki di Sumsel yang bekerja per Februari berstatus berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar yaitu 33,4 persen. Sementara, persentase terbesar dari penduduk wanita yang bekerja di Sumsel berstatus pekerja tidak dibayar mencapai 42,8 persen.(Sumatera Ekspres:18/05/2009-diolah)

SMK BISA! SUDAH BISA MAU APA?

Laporan : Romi maradona & Boni Soedarman



Genderang peningkatan jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi 70% yang ditargetkan sampai 2015 sudah ditabuh. Tujuan utamanya pengurangan jumlah pengangguran dan menambah tenaga terampil yang siap diserap dunia kerja. Gagasan ini, kemudian menjadi tantangan berat bagi Menteri Pendidikan, Prof Bambang Soedibyo, atau menteri selanjutnya untuk tetap konsisten meneruskan program ini. Jika kemudian gagasan Bambang, terhenti oleh pergantian menteri, maka ide ini nasibnya tak beda jauh dengan link and macth-nya Mediknas era Soeharto, Wardiman Djoyonegoro, yang kemudian hilang diganti dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dan berlanjut ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) hingg akhirnya pada KTSP dan besok entah apalagi.
Merunut perjalanan sistem dan kurikulum pendidikan Indonesia serasa menyesakkan dada. Tetapi inilah adanya. Tinggal bagaimana setiap lembaga pendidikan menyikapi hal ini dengan kreatifitas, sehingga tidak terjebak dengan bermacam perubahan yang tidak pernah tuntas. Inilah sekelumit keprihatinan yang disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Bende Seguguk (YPIBS) Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), Abdul Hamid Usman, S.H. M.Hum, kepada PRESTASI, gemilang pekan silam.
Mengiringi perjalanan pemerintahan baru, kini program peningkatan jumlah SMK 70% dan SMA 30% digulirkan. Pada satu kesempatan, Bambang Soedibyo menyatakan optimis akan mampu mengubah rasio jumlah SMK menjadi 70% dengan 30% Sekolah Menengah Umum (SMU). Misi Pemerintah ini ditargetkan selesai hingga 2013 untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. "Optimis, target men-SMK-kan bisa tercapai sebelum 2013," kata Bambang usai berkunjung ke SMKN 6 Palembang, pekan silam.
Menurutnya, secara keseluruhan perkembangan SMK di Indonesia semakin baik. Terbukti saat ini, terdata hampir di seluruh wilayah jumlah SMK sudah mencapai rasio 50 persen atau seimbang dengan jumlah SMU, terutama di daerah Jawa. "Kenyataan inilah makanya kami optimis," kata Bambang. Mekanisme penambahan SMK di tiap daerah, menurut Bambang, kebijakan sepenuhnya diserahkan masing-masing otonomi daerah. Dirinya optimis bila sebelum tahun 2013 target tersebut tercapai. Terlebih, saat ini jumlah alumnus SMP yang masuk ke sekolah SMK meningkat hampir 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, rata-rata angkatan kerja setelah lulus di SMK mampu terserap tenaganya secara penuh di satu perusahaan, karena mereka sudah terlatih diberikan program keahlian.
"Datanya hanya 17 persen saja pekerja yang menyandang status sarjana kurang mampu bekerja, sisanya banyak yang menganggur, itu tamatan SMA. Kalau keadaan ini dibiarkan terus maka mau dilimpahkan kemana penggugaran tamatan SMA," kata Bambang.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, SMK merupakan satuan pendidikan yang perannya perlu ditingkatkan. Sementara semua satuan pendidikan, termasuk SMK, harus mengacu standar mutu nasional pendidikan, sehingga betul-betul ada jaminan mutu. Dalam rangka itu, di masa mendatang akan dilakukan akreditasi secara besar-besaran terhadap semua satuan pendidikan. Pemerintah akan menyediakan dana melalui APBN. Dari situ akan ada sertifikasi pendidikan. Sertifikasi itu sangat cocok bagi SMK.
Terkait dengan peningkatan mutu, kata Mendiknas, tiap kabupaten dan kota didorong untuk membuat sekolah bertaraf internasional, disamping sekolah unggulan yang berbasis ekonomi dan sosio cultural. Jadi, antara satu daerah dengan daerah lain yang memiliki sekolah unggulan yang berbasis lokal.
SMK Plus adalah Solusi
Dalam rangka pelaksanaan pilar pembangunan di bidang pendidikan nasional untuk meningkatkan akses dan pemerataan serta peningkatan mutu pendidikan SMK, Bambang menyebutkan, melalui APBN tahun 2009 telah dialokasikan dana bantuan untuk pembangunan ruang kelas baru (RKB) SMK, pembangunan workshop, laboratorium dan perpustakaan SMK, pengadaan peralatan SMK rintisan SSN, serta pengadaan peralatan SMK Pra-SSN. Salah satu tahapan dalam pemberian bantuan tersebut, berupa kegiatan penandatanganan surat perjanjian dan bimbingan teknis pemberian bantuan tahun anggaran 2009. Program tersebut, menurut Bambang, tentu akan menjadikan SMK Plus, yaitu tersedianya peralatan, worshop, laboratorium dan perpustakaan, plus jaringan internet gratis di setiap SMK di Indonesia. ”Kesungguhan pemerintah ini harus didukung, keberpihakan pemerintah melalui program SMK bisa bukan hanya untuk sekedar umbar janji pada masa kampanye lalu, tetapi akan menjadi program permanen yang terencana dan berkelanjutan,” tegasnya.
Baru 50% bisa bekerja
Sementara itu, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Dediknas menargetkan, 70% lulusan SMK langsung kerja pada tahun kelulusan. Target itu diharapkan terealisasi pada 2010. Hal itu sesuai rencana strategis (renstra) 2010-2014, sekaligus menjawab kebutuhan sektor industri formal di Indonesia.
Direktur Pembinaan SMK, Joko Sutrisno, mengatakan, saat ini belum semua siswa kejuruan bisa langsung bekerja setelah lulus. Persentasenya masih 50%. Padahal, mereka memang diorientasikan untuk bekerja. Apalagi, di berbagai daerah saat ini banyak yang membutuhkan tenaga terampil. “Kita harapkan anak didik kita bisa mengisi kebutuhan itu,” terangnya.
Untuk memenuhi target itu, Joko mengakui sudah memiliki rencana strategis. Salah satunya terus menambah teaching factory di sekolah kejuruan. Saat ini sudah tersedia 1.250 teaching factory di SMK. Selain itu, ada 40 SMK yang memiliki pusat kewirusahaan bidang bisnis dan manajemen, serta 30 SMK dengan business center bidang pertanian maupun kelautan. Dengan berbagai fasilitas itu, siswa SMK dapat praktikum bekerja. “Praktiknya riil. Kalau jadi kasir, ya beneran. Demikian pula banyak siswa SMK yang belajar montir,” ujarnya.
Bukan hanya itu, pihaknya juga siap menambah praktikum siswa jurusan pariwisata. Saat ini sudah ada 100 SMK di Indonesia yang menerapkan praktikum hotel berbintang. Agar siswa SMK cepat terserap setelah lulus, pihaknya akan memperbanyak kerja sama dengan sektor industri. “Program job placement kita perluas,” cetusnya.
Untuk mengurangi tingkat pengangguran, Joko akan membuka industri mesin mobil berbasis SMK. Pendirian satu industri diperkirakan mampu menyerap 100 tenaga kerja SMK. Pendirian industri mesin mobil itu akan berimbas dibukanya 1.000 bengkel di SMK maupun di luar SMK. Tiap bengkel diperkirakan bisa memperkerjakan tiga orang.
Sekitar 15 persen dari kebutuhan tenaga kerja di perbengkelan itu diambil dari siswa SMK jurusan mesin otomotif. Termasuk, dibukanya industri sepeda motor. Bidang usaha otomotif dinilai Joko sangat punya masa depan yang baik. “Sebab, kemampuan anak didik kita ini tidak kalah dengan tenaga ahli lulusan yang lebih tinggi. Untuk bidang itu, tenaga kerja lulusan SMK yang dibutuhkan sekitar 10 ribu orang. Selain bidang kewirausahaan, semaksimal mungkin pihaknya menyalurkan lulusan SMK di sektor formal,” ungkapnya.
Beasiswa yang berprestasi
Menanggapi hal itu, Jum Herman,S.Ag, Kepala SMK di Muaraenim menilai rasio jumlah siswa yang tidak seimbang antara SMK dan SMA ini, memang perlu diseimbangkan. Terkait hal itu, menurut dia, pemerintah perlu melakukan peningkatan infrastruktur SMK untuk menyeimbangkan antara siswa SMA dan SMK. Hal ini berarti, infrastruktur yang baik akan menarik minat masyarakat untuk bersekolah di SMK.
Selain memperbaiki dan melengkapi infrastruktur SMK, pemerintah juga perlu menambah jumlah guru. Selain itu, untuk memacu siswa berprestasi lebih baik, pemerintah juga memprogramkan beasiswa kepada para siswa yang berprestasi dan mempunyai potensi untuk menjadi tenaga pendidik.
Direktur AMIK Rama Muaraenim ini mengatakan, saat ini banyak lulusan SMK yang berhasil, bahkan mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Misalnya, sejumlah alumni SMK di beberapa provinsi berhasil menembus pangsa kerja luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan SMK dilirik oleh sektor industri. Seiring perlunya penambahan sarana dan fasilitas pendidikan di SMK, bapak dari satu anak ini menilai, di tahun 2015 rasio jumlah siswa SMK dan SMA dapat menjadi kebalikan dari rasio yang ada saat ini, untuk menuju 70% SMK dan 30 % SMA.
Munculnya gagasan Mendiknas ini, menurut Roni Ridwan,S.Pd, praktisi pendidikan SMK Bina Mulia (BM) Tanjung Enim, jangan sampai karena melihat program pemerintah yang mengutamakan pendirian SMK, kemudian pengelola pendidikan tiba-tiba mendirikan SMK asal-asalan. Misalnya saja, sekedar ada ruang kelas, atau menumpang di sekolah lain , padahal untuk mendirikan SMK harus membangun ruang praktikum dengan standar minimal untuk pembelajaran. Menurut mantan aktifis Menwa Universitas Sriwijaya ini, mendirikan SMK berbeda dengan SMA, karena harus membangun ruang praktikum atau bengkel sehingga butuh biaya tinggi. Jangan sampai SMK-SMK baru hanya menumpang ruang praktiknya ke SMK-SMK yang sudah lama berdiri. Roni juga mengkhawatirkan beberapa SMK baru yang sampai saat ini gedungnya masih menumpang di SD, atau tidak memenuhi standar.
Mahalnya biaya mendirikan SMK dibanding SMA juga dikemukakan FX.Sucipto. Menurut mantan kepala sekolah SMA Bukit Asam tanjung Enim ini, mendirikan SMK, bila dibuat perbandingan menjadi; 20 SMA baru bisa mendirikan satu SMK. Sebab, menurut Sucipto, fasilitas SMK memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ”Kalau SMA, syaratnya ada kelas, guru dan gedung, semua proses belajar mengajar bisa dilakukan. Tetapi kalau SMK, selain gedung, juga fasilitas pendukung yang memadai, seperti peralatan latihan dari semua jurusan, laboratorium praktik dan lain sebagainya. Untuk memenuhi semua itu SMK tidak bia semudah itu didirikan, tanpa mempertimbangkan segala fasilitas dan sarana prasarana yang dibutuhkan, meskipun ada bantuan dari pemerintah, itu hanya faktor pendukung saja,” tegasnya.
(Boni Soedarman, Romi Maradona)

SIAPA BILANG LAPANGAN KERJA SEMPIT?



Dalam satu kesempatan, saya satu mobil dengan Sohib (55 tahun), salah satu sopir Kepala Departemen Pemerintahan di Muaraenim. Di samping Sohib, ada Mastur (38 tahun), staf departemen yang diberi tugas untuk mengurus administrasi tertentu di Kota Lahat. Obrolan bermula dari penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sumsel. Salah satu saudara kandung Mastur, secara kebetulan lulus murni. Sementara salah satu tetangga Sohib gagal, meski sudah ketigakalinya mengikuti tes PNS. Bahkan jauh sebelumnya, tetangga Sohib juga selalu gagal malamar ke beberapa perusahaan ternama di Sumsel.
“Sekarang ini memang sulit, kalau mau bekerja di perusahaan, apalagi PNS. Belum lagi lapangan kerja sekarang juga makin sempit,” Mastur menimpali pembicaraan Sohib sebelumnya.
“Sebenarnya lapangan kerja itu tidak sulit, maksud saya tidak sempit, pak,” Sohib melempar kalimat yang membuat saya tertarik. Bagi saya ucapan Sohib ini menjadi unik karena dari argumentasi kebanyakan orang yang selalu mengangguk terhadap sempitnya lapangan pekerjaan. Tetapi di mata Sohib tidak demikian.
“Lapangan kerja itu tidak sempit, pak,” katanya.
“Tapi sampai sekarang masih banyak tamatan SMA nganggur,” saya memancing.
“Bukan SMA saja, pak, tapi yang sarjana juga banyak!” Mastur menambahkan.
“Karena mereka terlalu banyak memilih pekerjaan, Pak,” kata Sohib lagi.
“Terlalu memilih bagaimana?” saya penasaran.
“Kalau tujuan mereka hanya bekerja di perusahaan dan menjadi PNS ya memang sempit. Tapi kalau mau mencari jalan lain, membuak usaha, masih banyak peluang lain yang bisa mereka lakukan. Tapi karena mereka tujuannya bekerja di perusahaan dan hanya PNS, ya pasti ngomong lapangan pekerjaan sempit,” ujar Sohib setengah menyalahkan sebagian orang yang selalu mengharap bekerja di perusahaan dan PNS.
“Jadi sempitnya lapangan pekerjaan itu tergantung dari mereka, pak?” tanya saya mencari argumentasi yang lebih detil.
“Betul, pak. Coba kalau mereka mau mengembangkan diri dengan mencari peluang lain, membuka usaha, mislanya, pasti tidak ada kalimat lapangan kerja sulit dan sempit. Masalahnya mereka itu tidak tahu potensi apa yang bisa dikembangkan menjadi ladang penghidupan, makanya mereka hanya bisa menunggu lowongan pekerjaan, bukan malah mencoba menggali potensi dirinya untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ujar Sohib seperti pengamat sosial.
“Contohnya apa, pak?” tanya saya lagi.
“Di komplek saya, tidak ada tukang pembuang sampah. Semua warga membuang sampah sendiri. Padahal ini potensi untuk dikelola, dan bisa menghasilkan uang. Coba kalau anak-anak muda mau membuang sampah satu minggu dua kali, setiap mengambil sampah misalnya dihargai tiga ribu rupiah saja, sudah berapa uang yang mereka dapatkan dalam satu bulannya? Itu baru satu rumah?! Kalau seratus rumah, atau lebih dari itu?! Makanya saya katakan tadi, yang membuat sempit lapangan pekerjaan itu bukan pemerintah tetapi diri kita sendiri yang membatasi pekerjaan. Mereka maunya bekerja enak, duduk dan mendapat gaji besar, pilihannya selalu di perusahaan besar atau PNS! Kalau hanya itu tujuannya ya jelas sempit, pak! Mestinya cara berbipikir seperti itu yang harus dirubah,” kalimat Sohib makin mengalir tak terbendung. Dari nada bicaranya, ada getaran kekesalan terhadap mentalitas sebagian pemuda kita yang enggan membanting tulang demi masa depan tanpa harus memilih-milih pekejaan.
“Bapak sudah pernah katakan ini pada mereka?” tanya saya lagi.
“Bukan sekali dua kali, pak. Setiap mereka nongkrong di waung saya, mereka selalu saya marahi supaya otak mereka itu tebuka. Tapi mereka hanya diam. Setelah itu, besoknya masih begitu saja, tidak ada perubahan apapun dari sikap mereka,” katanya sedikit kesal.
“Apa alasan mereka tidak mau, pak?”
“Ada yang malu. Ada yang merasa gengsi!”
“Kalau sampah mungkin wajar, pak. Apalagi sebagian mereka juga ada yang sarjana, mungkin..,” saya menimpali Sohib, tetapi terputus.
“Masalah hidup, bagi saya bukan urusan gengsi atau tidak, pak. Sekarang mereka mau hidup atau tidak, mau makan atau tidak?! Perjalanan hidup itu tidak ada yang langsung jadi atasan. Bapak juga sebelumnya pasti mengalami hal sama. Dari bawah dan sampai seperti sekarang. Kalau gengsi terus ya akan tetap menunggu lamaran dan tetap saja menganggur. Anak muda sekarang memang tidak kreatif, pak! Maunya kerja enak dan gaji besar. Kalau anak raja mungkin. Tapi kalau anak gembel?! ya harus mulai dari bawah, pak!” Sohib.
“Bapak pernah ke Malioboro Yogya?” tanya saya untuk mengalihkan arah kreatifitas selain mengangkut sampah.
“Penah, Pak. Kalau bapak tanya itu, saya jadi ingat dengan kerajinan di sana. Saya lihat di Malioboro itu ada batok kelapa, dibelah jadi dua. Kemudian dipernis sampai mengkilat. Di tengahnya dikasih retsleting. Mereka buat seperti dompet untuk menyimpan uang. Ada lagi yang dibuat menjadi tas unik. Ternyata, barang tidak berguna seperti batok kelapa yang di sini dibuang-buang untuk kayu bakar, justeru di Yogya malah bisa menjadi bahan kreasi yang dapat mendatangkan uang. Yang heran, kenapa ide itu bukan muncul dari anak-anak kita?”
Bagi sebagian orang, Sohib hanyalah sosok karyawan rendahan yang tak punya jabatan kecuali sopir pribadi tuan kepala departemen. Tetapi bagi saya, Sohib adalah manusia pemilik uang ratusan juta rupiah dari de-ide segarnya. Seandainya generasi kita bersedia menggali potensi kreatif yang ada di sekitar kita mungkin tumpukan jumlah pengangguran di negeri ini akan berkurang. Masalahnya kemudian adalah, bagaimana institusi pendidikan di Sumsel sudah saatnya untuk membangkitkan mentalitalitas enterpreunership (kewirausahaan) di kalangan siswa, sehingga kelak ketika selesai sekolah dan kuliah bukan menambah barisan pengangguran yang membenai pembangunan, namun sebaliknya dapat menjadi generasi yang mandiri dan tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tanpa harus menjadi ‘peengemis’ pekerjaan diberbagai instansi pemerintah dan swasta. Sekarang, tinggal bagaimana kita harus memulai untuk mencoba. Mengutip motivator Indonesia Andre Wongso, selama kita tidak pernah berani mencoba, takut jatuh dan takut terhadap kegagalan, maka keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup akan makin menjauhi kita. (imron supriyadi)

BERBURU PERGURUAN TINGGI



Mau melanjutkan pendidikan setelah SMA? Mungkin inilah yang saat ini sedang terpikir siswa yang baru saja tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pertanyaan klasik yang kadang sulit menjawabnya adalah bagaimana memilih Perguruan Tinggi. Bagaimana tidak susah? Perguruan Tinggi di Indonesia kan sangat banyak, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS)? Mungkin diantara kita ada yang merasa kesulitan dalam menyeleksi satu persatu dari ratusan Perguruan Tinggi di Indonesia. Tetapi kita tidak perlu bingung, sebab Majalah Prestasi gemilang akan memberi tips bagaimana memilih Perguruan Tinggi. Sekarang persiapkan diri untuk membacanya sampai tuntas.
Memburu Perguruan Tinggi, memang sudah menjadi agenda tahunan bagi para alumnus SMA. Tujuannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Sebagian S.1, ada pula yang mengambil D-1, D-2 dan D-3. Sisanya boleh jadi tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dengan bemacam alasan. Tidak minat. Biaya terbatas, atau ingin langsung mencari pekerjaan karena tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga.
Mengiringi persaingan dalam memburu ‘kampung sarjana’ menjadi tantangan setiap Perguruan Tinggi. Wajar saja bila kemudian menjelang tahun ajaran baru, hampir setiap media memuat iklan penerimaan mahasiswa baru dari beberapa Perguruan Tinggi, dengan menyebut bermacam fasilitas yang tersedia di kampusnya. Sejak kurikulum, sarana prasarana, tenaga dosen sampai penyaluran tenaga kerja setelah mereka selesai kuliah.
Banyaknya tawaran dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (TPS) dapat menjadi ruang yang bebas bagi para calon mahasiswa dalam menentukan pilihan. Tetapi di sisi lain, bukan tidak mungkin, para calon mahasiswa menjadi bingung akan kemana mereka melanjutkan kuliah.
“Kebingungan ini paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama, keinginan calon mahasiswa yang tidak diikuti oleh kemampuan sebagian orang tua dalam membiayai kuliah, apalagi yang bersangkutan ingin masuk di perguruan tinggi swasta yang bengengsi. Ini tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kedua, ada sebagian calon mahasiswa tidak mengukur potensi diirnya, akan kemana mereka mengambil jurusan. Sehingga, tidak jarang, ketika sudah masuk dalam perguruan tinggi, tiba-tiba di tengah perjalanan pindah jurusan,” kata Roni Ridwan, S. Pd, salah satu praktisi Pendidikan di Muara Enim.
Bagi yang calon mahasiswa yang lahir dari keluarga mampu, sangat mungkin untuk memilih perguruan tinggi yang bonafide. Tetapi bagi keluarga yang memiliki dana pas-pasan, sering terjebak pada pilihan jurusan yang tidak sesuai minatnya. Oleh sebab itu, tidak sedikit wali siswa yang menuntut putra-putrinya asal kuliah, yang penting biayanya murah.
Maskur, 56 tahun, salah satu orang tua siswa di Palembang mengaku, pada awalnya ia berkeinginan memasukkan anaknya ke perguruan tinggi yang bergengsi. Tetapi karena keterbatasan biaya, akhirnya menyuruh anaknya memilih perguruan tinggi yang biayanya terjangkau, meskipun tidak bergengsi.
“Bagi saya, yang penting anak saya kuliah. Terserah mau kuliah dimana yang penting saya bisa membiayai. Dari pada idak kuliah,” kata buruh meubeler ini kepada PReTASI gemilang, pekan lalu.
Ada beberapa hal yang sering diluar perhitungan. Seringkali PTN atau PTS yang kita inginkan tidak sesuai dengan keadaan keuangan orang tua kita. Kuliah di Perguruan Tinggi memang banyak komponen biaya yang kadang tidak terduga. Misalnya uang pendaftaran, uang gedung, spp, uang praktikum, dan lain-lain. Yang lebih tidak nggak diperkirakan adalah biaya mendadak, seperti fotokopi, beli buku, ataupun transportasi. Belum lagi kalau kita musti kos, karena tempat kuliah yang jauh dari rumah. Jadi, supaya aman, pada saat kita akan melakukan pendaftaran, tanyakan secara detail biaya apa saja yang harus kamu tanggung selama kuliah. Perhitungkan juga biaya lain-lain yang akan ditanggung saat menjadi mahasiswa. Diskusikan masalah tersebut bersama orang tua agar orang tua tidak kalang kabut mencari biaya setelah kita kuliah di tempat tersebut.
Menghadapi ‘perlombaan’ memburu perguruan tinggi ini setiap sekolah kemudian memiliki beban tanggngjawab yang tidak ringan. Di sebagian SMA ternama, jauh sebelum ujian akhir dilakukan, masing-masing SMA sudah melakukan lobi ke beberapa PTN atau PTS di luar Sumatera, dengan harapan beberapa alumnusnya bisa diterima dengan mulus. Syukur syukur dengan PMDK. Bila ini berhasil, paling tidak akan menambah daya minat wali murid untuk memasukkan putra-putrinya ke SMA yang bersangkutan di tahun berikutnya. Sebab diakui atau tidak, dengan cara ini sedikit banyak akan berpengaruh pada brand image (nama baik sebuah SMA, baik negeri mapun swasta).
Menghadapi penerimaan mahasiswa ini, tanggungjawab lain bagi setiap guru SMA adalah memberi arahan kepada setiap alumnusnya akan kemana mereka memilih perguruan tinggi sesuai dengan potensi yang dimiliki dari masing-masing siswa.
Adi Kurniawan, S. Pd, salah satu tenaga didik SMA di Tanjung Enim menyebutkan, jauh sebelum para siswa menentukan pilihan, setiap guru sangat perlu melakukan pengarahan, sehingga para almunusnya tidak salah dalam memilih jurusan di perguruan tinggi.
Dalam menelusuri minat siswa inilah, seorang guru kemudian menanyakan kepada siswa, tentang jurusan yang diinginkan. Tetapi meski demikian, menurut guru biologi ini, sebagai seorang guru wajib memberi arahan kepada siswa, agar jurusan di perguruan tinggi yang dipilih sesuai dengan latar belakang jurusan ketika di SMA. “Misalnya, ada siswa yang berminat masuk di Fakultas Ekonomi, sementara waktu di SMA jurusannya IPA. Kalau ini kita biarkan atau dipaksakan, sangat mungkin siswa tadi akan banyak hambatan dalam menerima materi. Bukan karena tidak pintar, tetapi karena memang tidak sesuai dengan latar belakang jurusannya ketika di SMA, akhirnya banyak hambatan yang dihadapi saat di perguruan tinggi,” tegas Adi ketika dijumpai di kediamanya di Tanjung Enim pekan lalu.
Mengarahkan siswa agar masuk ke perguruan tinggi sesuai dengan latar belakang jurusan, bukan hal yang mudah. Menurut pengakuan Adi, ada saja diantara siswa yang berminat di Fakultas lain yang sama sekali tidak sesuai dengan jurusannya saat di bangku SMA. Belum lagi, siswa yang bersangkutan sering berhadapan dengan kehendak orang tua yang berseberangan dengan pengarahan dari pihak sekolah.
“Tetapi, apapun pilihan siswa, kami sebagai pendidik tetap mempunyai tanggungjawab untuk tetap memberi pengarahan, sehingga di kemudian hari, kalau terjadi sesuatu, mereka tidak akan menyalahkan pihak sekolah. Sebab, ya itu tadi. Sekolah sudah memberikan pertimbangan,” katanya (Laporan : Romi Maradona dan Sulis)


Sirozi : Jangan Silau Dengan Perguruan Tinggi Bergengsi”
Oleh Romi Maradona dan Sulis

Persaingan dalam memilih Perguruan Tinggi kini sedang menjadi trend di kalangan anak-anak sekolah, terutama bagi siswa kelas tiga SMA yang baru selesai menempuh Ujian Nasional (UN) tahun 2009. Tidak sedikit sebagian mereka melakukan uji kemampuan dengan cara mengikuti berbagai try out. Tujuannya untuk membekali diri, dengan harapan dapat mencapai kesuksesan maksimal, sehingga mereka dapat melenggang di kampung sarjana, baik di dalam maupun di luar negeri.
Sejak digelarnya UN, berbagai perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, telah mulai mempromosikan diri melalui media, dengan segala kelebihannya. Hampir tidak ada perguruan tinggi yang menyebutkan kelemahannya. Bermacam kalimat dan slogan dibuat untuk menambah daya tarik calon mahasiswa. Program unggulan pun menjadi andalan promosi Perguran Tinggi. Pamlet, brosur dan masih banyak kertas full colour lain berisi iklan Perguruan Tinggi bergengsi dengan berbagai tarif SPP dan fasilitas lainnya.
Bukan hal yang mudah dalam menentukan pilihan Perguruan Tinggi, apalagi dengan banyaknya alternative pilihan seperti sekarang. Oleh sebab itu, banyak siswa yang telah mengumpulkan informasi terkait dengan beberapa Perguruan Tinggi yang akan menjadi tempat mereka melanjutkan pendidikan. Seperti halnya Iwan, salah seorang siswa SMA di Palembang yang hingga kini mengaku telah mengantongi berbagai informasi penting mengenai perguruan tinggi di Indonesia.
Senada dengan Iwan, Sri Sumantri, siswi SMA di Tanjung Agung Muara Enim mengaku dirinya sampai saat ini masih bingung menentukan pilihan, sebab antara keinginannya sebagai mahasiswa terbentur dengan kemapuan ekonomi keluarga. “Gimana ya, maunya mau ingin masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi, tetapi ya itu tadi, kemampuan orang tua sangat terbatas,” tutur Sri kepada Prestasi gemilang, saat dijumpai di rumahnya di Tanjung Agung Muara Enim.
Junaidi Padil, S.Ag, salah satu staf pengajar SMK Bukit Asam Tanjung Enim, mengatakan banyak siswa yang masih bingung memilih perguruan tinggi. “Namun saat ada beberapa siswa yang bertanya, saya hanya menyarankan kepada mereka untuk tetap melihat potensi diri dan prestasi akademis mereka, hal ini akan bermanfaat untuk memilih program studi yang akan mereka ambil. Sebisa mungkin saya meyakinkan mereka untuk melanjutkan sesuai program yang telah terbekali dari SMK, apapun jurusan yang mereka pilih,” tegasnya.
Di tengah banyaknya pilihan Perguruan Tinggi seperti sekarang, Prof. Dr. Sirozi, P.hd, Pembantu Rektor I Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang mengatakan, dalam memilih Perguraun Tinggi memerlukan kejelian, terutama mengenai program studi yang akan diambil. “Dalam menentukan pilihan Perguruan Tinggi, harus mempertimbangkan kualitasnya, baik dari segi akreditasi, prestasi, tenaga pengajar sampai pada biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa masuk di Perguruan Tinggi tersebut,” tegasnya.
Memasuki dunia Perguruan Tinggi menurut mantan Direktur Pasca Sarjana IAIN Raden Fatah Palembang ini, berarti melibatkan diri dalam situasi hidup dan situasi akademis yang secara mendasar berbeda jauh dengan apa yang pernah dialami dalam lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA). Perguruan Tinggi bukanlah sekedar lanjutan dari SMA, namun pada kenyataannya memiliki jenjang yang lebih tinggi dan merupakan suatu yang hakiki dari taraf pendidikan yang lebih tinggi.
Berbagai upaya telah ditempuh oleh sebagian alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan SMA, baik kursus, pembedahan kisi-kisi SPMB, privat, sampai try out akbar. Semua itu dilakukan guna mempersiapkan ujian masuk Perguruan Tinggi. Tidak sedikit Perguruan Tinggi yang mengajukan berbagai persyaratan bagi calon mahasiswa baru.
Inilah gambaran kecil yang ditempuh oleh para siswa untuk mengetahui informasi dan masukan-masukan dari para pendidiknya. Diharapkan, melalui cara ini para guru dapat menambah informasi terhadap siswa tentang program perguruan tinggi. Dengan begitu siswa akan mulai mencerna dan mempertimbangkan ke mana arah pendidikan lanjutan yang seharusnya mereka inginkan.
Alumnus S.2 University of London ini mengatakan agar siswa jangan terlalu silau terhadap pendidikan luar negeri. Siswa harus mampu melihat dengan jeli mana yang terbaik sesuai dengan kemampuan akademis siswa. “Memang di luar negeri terutama pada negara-negara maju memiliki kelebihan tersendiri, misalkan dari segi tenaga pengajarnya yang minimal S.3, namun kita harus bisa memilih program studi yang akan kita tempuh sesuai dengan prestasi kita, terutama dari segi bahasa dan akademik. Jika memang di Palembang ada yang lebih baik mengapa tidak memilih lokasi yang dekat saja. Untuk menentukan perguruan tinggi itu, siswa harus melihat akreditasi program studi, bagaimana kualitasnya, dan masih banyak pertimbangan lain termasuk biaya yang harus dikeluarkan,” tambahnya.
Menurut Sirozi, jika siswa memiliki prestasi yang bagus, mereka berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun ini juga membutuhkan kerja keras yang lebih. Karena siswa harus bersaing ketat dengan peserta lain. Ada beberapa strategi untuk meraih beasiswa terutama luar negeri yaitu hampir semua beasiswa luar negeri menargetkan tofle min 550, dan Indkes Prestasi (IPK) minimal 3.00. “Jika siswa memiliki pengalaman organisasi maka cantumkan, siapkan statement of purpose, pelajari kampus beasiswa yang anda tuju termasuk menghubungi dosen, profesor serta alumni yang pernah tinggal di Negara atau kota tersebut, buat curriculum viate (CV) yang sistematis dan tidak bertele-tele,” tambahnya.
Sementara itu, Herizal, salah satu alumnus Canbera University, Australia mengatakan, untuk mendapat infromasi tentang Perguruan Tinggi ini, sebagian siswa siswa mengakses internet. Melalui media ini, informasi mengenai Perguruan Tinggi dalam maupun luar negeri tersedia dengan lengkap, menarik, dan cepat untuk di dapat. Ada juga yang memberikan pelayanan on line seperti pada universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia (UI) Jakarta dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta misalnya. Dengan akses internet ini siswa bisa lebih puas melihat berbagai fasilitas dan biaya kuliah yang ditawarkan.
Lebih lanjut Kepala Unit Bahasa (UBINSA) di IAIN Raden Fatah Palembang ini mengatakan, tidak menutup kemungkinan banyak siswa yang berminat untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, ketika mereka tergiur dengan fasilitas yang bagus yang dimiliki oleh negara-negara maju sesuai dengan peringkat yang mereka capai pada kategori universitas terbaik dunia.
“Mereka bisa saja memilih melanjutkan ke luar negeri karena mereka merasa memiliki prestasi akademis yang bagus, dan biaya yang mencukupi, atau bahkan mungkin mereka ingin mengubah suasana, yang tadinya beberapa tahun sekolah di Palembang atau Indonesia, mereka ingin melihat budaya baru dengan suasana yang baru, hal ini bisa saja terjadi sesuai dengan individu siswa” ujar Herizal, ketika ditemui di ruangannya pekan lalu.
Jika dibandingkan di luar negeri, lanjut Herizal, seperti di United State, atau di Canada misalnya mereka memiliki fasilitas yang sangat lengkap, sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswanya, seperti kedisiplinan yang timggi, gedung yang bersih sejuk yang dikelilingi oleh taman hijau, perpustakaan 24 jam, internet dan fhotocopy gratis, dan masih banyak fasilitas lain yang memang benar-benar berbeda jauh dengan negara kita. Namun lagi-lagi semua kembali kepada pertimbangan masing-masing individu. Karena biasanya biaya untuk mahasiswa asing akan dikenakan biaya berapa kali lipat lebih besar daripada mahasiswa lokal. (*)

‘GELAR’, GENGSI ATAU PRESTASI?

Selain jurusan, ada beberapa pertimbangan lain bagi kalian yang ingin menjadi mahasiswa. Dari sekarang, kalian penting untuk menentukan program apa yang akan kalian pilih di perguraun tinggi. Ini mejadi penting, supaya ketika nanti kalian kuliah tidak akan benturan antara niat awal dengan target akhir di perguruan tinggi. Nah, untuk menentukan program apa yang akan dipilih, penting juga menentukan akan berapa lama kalian ingin menghabiskan waktu di bangku kuliah? Dua tahun? Tiga tahun? Secepatnya? Berapa cepat? Tapi, jangan jadi (Mahasiswa Paling Lama—alias MAPALA), kasihan orang tua yang sudah banyak mengeluarkan banyak biaya. Syukur-syukur kalian bisa mengejar target bieasiswa. Tetapi kalau kalian akan bergabung di Mahasiswa Pencita Alam (MAPALA), tidak apa-apa, untuk menyalurkan bakat dan minat di kampus, tidak mesti menjadi mahasiswa paling ama tadi).
Cepat dan tidaknya dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi, selain ditentukan oleh kemampuan kalian, hal ini juga tergantung dari jalur atau jenjang pendidikan yang akan kalian ambil. Perlu kalian ketahui, Pendidikan tinggi di Indonesia mengenal dua jalur pendidikan, yaitu jalur akademik (jenjang sarjana) dan jalur profesional (jenjang diploma). Jalur akademik menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sedangkan jalur profesional menekankan pada penerapan keahlian tertentu.
Dalam kaitannya dengan waktu, jenjang sarjana membutuhkan waktu lebih lama (minimal 8 semester) dibandingkan dengan jenjang diploma (2 semester untuk D1 - 6 semester untuk D3). Hal ini tentu sangat berpengaruh pada biaya yang harus kalian sediakan. Banyak diantara teman-teman kalian, yang karena keterbatasannya, lebih memilih jenjang diploma, dengan harapan cepat lulus dan mendapat pekerjaan.
Perlu kalian tahu, jenjang diploma dirancang sebagai jenjang terminal. Artinya, lulusannya dipersiapkan untuk langsung memasuki dunia kerja, bukan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (walaupun sekarang ada yang disebut program lintas jalur, dari diploma ke sarjana). Ini berbeda dengan jenjang sarjana, yang membuka kesempatan lulusannya untuk terus mengembangkan ilmunya.
Hal lain yang harus kalian perhatikan adalah, tingkat persaingan di pasar kerja. Kalau banyak tenaga sarjana yang tersedia, perusahaan akan lebih memrioritaskannya dibandingkan lulusan diploma. Tetapi, ingat lho, sekarang ketentuan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Dosen dan Guru, mengharuskan gelar S.1 dalam jenjang tertentu, apalagi kenaikan pangkat bagi sebagian PNS. Bahkan di beberapa perusahaan Swasta, gelar S.1 juga menjadi nilai tawar yang mesti kalian perhitungkan, apalagi untuk menaikkan jenjang karier. Makanya, untuk yang satu ini kalian juga perlu mempertimbangkan. Apalagi kalau kalian ingin meneruskan sampai jenjang S-2, jelas harus selesai dulu S-1. Sebab, kalau kalian ingin menjadi Dosen di PTN dan PTS, sekarang harus sudah selesai di jenjang S-2. Sementara S-1 hanya boleh mengajar di tingkat SMA, ini menurut Undang-Undang, lho.

Gelar dan Sebutan
Sesudah kalian lulus, selain kalian akan mendapat ijazah, kalian akan diperbolehkan oleh PTN dan PTN menyandang gelar akademis atau sebutan profesional. Misalnya, Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ekonomi (SE), Sarjana Hukum (SH), Sarjana Agama, (S.Ag), Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dan gelar lainnya. Gelar akademis ini diberikan kepada kalian yang sudah menyelesaikan pendidikan melalui jalur akademik (jenjang sarjana, bukan diploma).
Lalu bagaimana kalau kalian menyelesaikan pendidikan jalur profesional (jenjang diploma)? Bukan gelar akademis (Sarjana, misalnya)? Yang kita dapatkan, bukan gelar sarjana, (SH, SE dan lainnya), melainkan sebutan profesional seperti Ahli Madya Komputer (AMd.Komp). Sebutan ini mungkin belum terlalu dikenal di masyarakat. Dan seringkali gelar Ahli Madya ini kadang-kadang dianggap sebagian masyarakat kurang bergengsi. Makanya, di antara teman-teman kita yang hanya menyelesaikan Diploma, lebih menyukai digelari dengan istilah D3-Komputer, D-3 Sekretaris dan lainnya.


Gengsi atau Prestasi
Kalau kalian sudah menyandag gelar, masyarakat akan menilai kalian sebagai orang yang intelek. Makanya gelar sarjana itu bukan sekedar gengsi tetapi juga harus diikuti dengan prestasi, bukan saja akademik tetapi juga mentalitas, cara pandang, pola piker dan pola kerja. Sebab banyak, lho, teman-teman kita yang sarjana tetapi pola pikirnya tidak akademis. Mislanya dalam setiap rapat di organisasi ingin menang sendiri. Atau mengatakan “saya ini sarjana, lho.” Jadi kesarjanaan bukan sebatas gelar di belakang atau di depan nama, tetapi juga ditutut bertanggungjawab terhadap isi otak dan praktik sehari-ari dalam kehidupan. Kalian boleh banga dengan gelar sarjana, tetapi juga harus malu, bila ternyata gelar kita belum sesuai dengan kesarjaan yang kita sandang. Makanya menjadi sarjana itu, dikatakan berat ya berat, dikatakan ringan ya tidak juga. Semua membutuhkan pertanggungjawaban di tengah masyarakat.(*)


KAMPUS, ADA HARGA ADA RUPA

Memilih perguruan tinggi bagi siswa dan sebagian orang tua siswa acapkali menjadi tarik ulur, terutama antara dua pilihan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguraun Tinggi Swasta (PTS). Bila berkiblat di kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta), biaya PTS selalu lebih tinggi dibanding dengan PTN. Tetapi, dari sisi gengsi, PTS sering menjadi sandaran, kecuali PTS yang sedang berkembang, tidak masuk dalam kelompok ini. Namun demikian, sekali lagi di kota-kota besar, PTN sebenarnya juga tidak kalah bergengsi dengan PTS. Ada beberapa PTN yang namanya sudah terkenal, Sebut saja Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (IPB), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lainnya.
Dari tahun ke tahun, tidak sedikit siswa dan para orang tua siswa yang ‘bermimpi’ agar anaknya dapat menjadi mahasiswa PTN itu. Bukan karena gengsinya saja, tetapi secara kualitas sarjana dan fisiknya memang sudah diperhitungkan banyak orang. Belum lagi peluang kerja. Alumnus PTN yang disebutkan diatas, memang sudah cukup bersaing. Bahkan sebagian alumninya juga tersebar di jajaran pemerintahan, sejak legislatif, eksekutif maupun yudikatif, atau di kalangan swasta.
Namun, untuk masuk ke PTN juga tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab setiap calon mahasiswa harus bersaing dengan jutaan calon mahasiswa se-Indonesia, untuk mempertaruhkan diri menjadi mahasiswa di PTN melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Kalau tidak lulus UMPTN, lalu memilih PTS, yang kebanyakan biayanya memang lebih mahal. Meski demikian, ada beberapa PTS yang tetap memberlakukan biaya murah. Tetapi biasanya PTS yang biayanya murah lihat saja sarana dan pra-sarananya. Belum lagi kualitas dosen dan sarjananya. Sebab ada lho, Perguruan Tinggi, yang hanya untuk menjadi ‘jembatan’ mencari gelar, bukan untuk menggali ilmu. Nah, Perguruan Tinggi yang satu ini, biasanya memakai sistem “Maju Tak Gentar Membela yang Bayar,” alias selama bayaran lancar, diakhir perkuliahan akan segera mendapat gelar. Makanya, ada istilah dalam jual beli, Ada harga ada rupa. Bagi kalian yang masih bingung menentukan pilihan, dibawah ini ada beberapa tips yang dapat menjadi pijakan, bagaimana kalian memiilih Perguruan Tinggi.
Pertama, Minat. Artinya, Faktor utama yang harus kamu ketahui adalah minat kalian sendiri. Kalau kalian sudah mengetahui minat kalian terhadap tujuan program studi yang akan dipilih, studi kalian akan semakin mudah dalam memilih Perguruan Tinggi. “Dan yang lebih penting kalian akan mudah dan terpacu untuk menyelesaikan studi saat kalian kuliah, sebab sesuai dengan minat kalian”
Kedua, Biaya. Seringkali Perguruan Tinggi, yang kita inginkan tidak sesuai dengan keadaan keuangan orang tua kita. Kuliah di Perguruan Tinggi memang banyak biaya yang sering diluar perhitungan orang tua. Dari uang SPP sampai uang non akademis. Makanya, kalian harus hitung biaya dalam setiap bulan, kira-kira biaya apa saja yang prioritas dan biaya yang ‘sunnah’ (tidaak wajib) tetapi penting, sekaligus menghitung kemungkinan biaya diluar akademis, tetapi tidak termasuk biaya ngampel dan nonton bersama ke pacar, lho.
Ketiga, Prospek. Saat ini sangat banyak program studi yang ditawarkan baik oleh PTN
maupun PTS, tentu tidak semuanya menjanjikan prospek pekerjaan yang cerah di masa mendatang. Pertanyaanya adalah, manakah yang akan kalian pilih? Program studi yang selalu menjadi favorit, tetapi pada akhirnya banyak lulusannya yang menganggur ataukah program studi yang tidak termasuk kategori favorit, tetapi begitu lulus langsung dapat kerja (biasanya karena lulusannya yang langka, sedangkan dunia kerja masih sangat terbuka?)
Keempat, Reputasi. Apakah kalian akan memilih Perguruan Tinggi karena perguruan tinggi tersebut terkenal saja? Wa, itu salah! Ada beberapa faktor yang harus kalian pertimbangkan jika kalian ingin memilih Perguruan Tinggi tersebut. Misalkan bagaimana fasilitas belajar mengajarnya, kualitas lulusannya, dan bagaimana reputasi Perguruan Tinggi tersebut di kalangan pendidik. Sehingga saat kalian tamat dari situ, kalian akan menjadi sarjana yang punya posisi tawar, alias tidak mudah diremehkan orang, karena orang sangat mengetahui reputasi Perguruan Tinggi tempat kalian kuliah.
Kelima, Status Akreditasi. Kalau tahun sebelumnya, kalian kenal dengan status disamakan, diakui ataupun terdaftar. Sekarang ini ada yang dinamakan dengan status akreditasi. Status inilah yang saat ini menjadi salah satu faktor utama yang digunakan oleh PTS untuk mengiklankan dirinya. Ini menjadi penting supaya kalian tidak salah memilih di Perguruan Tinggi yang punya status terancam, hanya karena status Yayasannya belum sesuai dengan undang yang baru, sehingga ijazahnya tidak bisa diakui secara legal untuk melamar kerja atau kenaikan pangkat atau jabatan.
Keenam, Fasilitas. Hati-hatilah dengan tampilan fisik. Imbauan ini tidak hanya berlaku kalau kalian memilih teman, tetapi berlaku juga jika kalian akan memilih suatu Perguruan Tinggi. Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang baik. Fasilitas utama yang harus diketahui kalian dalam suatu Perguruan Tinggi adalah seberapa baik dan bagusnya fasilitas, seperti laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), studio dan perpustakaan yang dimiliki. (*)




Mengapa Swasta
LEBIH MAHAL


Mengapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) selalu lebih mahal? Ini pertanyaan klasik yang mungkin masih terbersit di benak kalian, atau di sebagian para orang tua. Bagaimana tidak mahal, sebab di PTS biaya operasional kampus mayoritas dibebankan pada mahasiswa. Makanya, berkembang dan tidaknya PTS, paling mudah dilihat dari jumlah mahasiswanya yang (selalu) bertambah. Ini sangat penting bagi PTS, karena mahasiswa adalah sumber utama (seringkali satu-satunya) pendapatan PTS. Dari merekalah PTS mencukupi kebutuhannya untuk membiayai operasional pendidikan, membangun gedung, menambah fasilitas pendidikan, termasuk membayar gaji dosen dan karyawannya. Oleh karena itulah ada kecenderungan PTS untuk menggali sebanyak mungkin potensi ini, baik secara kualitas (memperbesar uang gedung dan uang kuliah) maupun kuantitas (menerima sebanyak mungkin mahasiswa).
Pada sisi lain, bertambahnya mahasiswa menuntut ditambahnya jumlah dosen. Bukan hal yang mudah mendapatkan dosen dengan jumlah yang memadai, apalagi yang memenuhi kualitas dosen yang dibutuhkan. Padahal Undang-Undang Pendidikan Tinggi mensyaratkan tercapainya nisbah (rasio) antara dosen tetap dan mahasiswa sebesar 1:30 untuk bidang studi IPS dan 1:25 untuk bidang studi IPA. Mungkin faktor dosen ini merupakan salah satu faktor paling sulit bagi suatu PTS, dan karenanya sering diabaikan atau direkayasa.
Pengabaian secara kuantitatif dilakukan dengan membebani dosen yang terbatas jumlahnya dengan beban mengajar yang besar, sehingga waktu dan tenaga dosen-dosen tersebut betul-betul tersita untuk itu. Seringkali hal ini dilakukan dengan mengabaikan aspek kualitas pengajarannya. Hampir tidak tersisa lagi waktu untuk melakukan penelitian atau pengabdian masyarakat yang merupakan pilar-pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Bisa juga suatu PTS memenuhi aspek kuantitas dosen tetap ini, tetapi dengan mengkompromikan kualitasnya. Misalnya dosen yang mengajar tidak sesuai dengan bidang ilmunya, tidak terpenuhinya kepangkatan akademik dalam pengajaran atau bimbingan tugas akhir, dan lain sebagainya. Rekayasa positif terjadi dengan penggunaan dosen-dosen tidak tetap. Biasanya dosen tidak tetap ini memenuhi persyaratan kelayakan mengajar, seperti latar belakang pendidikan, gelar dan kepangkatan akademis dan profesionalismenya. Masalahnya, dosen-dosen ini hanya menyediakan waktu yang terbatas kepada mahasiswa sesuai dengan status tidak tetapnya. Bagi PTS, mereka tidak bisa disertakan dalam penghitungan nisbah dosen tetap dan mahasiswa sehingga tidak berpengaruh dalam penentuan status akreditasi.
Yang paling memprihatinkan adalah jika terjadi rekayasa negatif. Dalam hal ini PTS berusaha dengan segala macam cara untuk memenuhi nisbah tersebut. Misalnya PTS masih mencantumkan nama dosen yang sudah tidak lagi menjadi dosen tetap di sana, atau nama seseorang tercantum sebagai dosen tetap di lebih dari satu PTS. Contoh lain adalah dengan cara meminjam nama. Seseorang yang memenuhi kualifikasi akademis “diangkat” sebagai dosen tetap dengan mendaftarkannya secara resmi ke instansi yang berwenang. Artinya, secara administratif seluruh persyaratan sudah dipenuhi dan “dosen” tersebut juga menerima gaji dari PTS. Tetapi, keterlibatannya dalam kegiatan akademik hampir atau memang tidak ada sama sekali.(*)

KULIAH (BUKAN?) JAMINAN CEPAT KERJA



Agus dan Rahmat, adalah kedua teman saya semasa SMA. Keduanya punya semangat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Bedanya, Rahmat lahir dari keluarga pas-pasan. Sementara Agus dari keluarga yang berkecukupan. Agus akhirnya berangkat ke Australia mengambil program Bisnis di Sidney. Sementara di tempat berbeda, Rahmat tetap di Indonesia, masuk ke lembaga pendidikan kursus membuat roti. Hanya dua tahun, Rahmat lulus dengan mengantongi sertifikat pembuatan roti yang tentu layak dijual. Sementara Agus masih asik di luar negeri dengan berbagai kesibukan akademisnya.
Tiga tahun berlalu. Rahmat berhasil menjaring perusahaan yang meminjami modal usaha. Berkat kerja kerasnya, roti yang dihasilkan Rahmat akhirnya mampu menguasai sebagian pasar di Provinsi Lampung ketika itu. Kami menyebutnya dengan ‘Roti Mungil’ sesuai dengan bentuknya yang kecil tetapi enak untuk menemani segelas kopi atau sekedar air putih.
Dalam waktu yang sama, Agus pulang. Tetapi dengan bekal kesajanaannya luar negeri, Agus tidak bisa langsung seperti Rahmat yang berdikari, apalagi menyerap tenaga kerja. Justeru situasinya berbalik. Pada suatu ketika, Agus yang sudah memiliki tanggungan anak dan isteri meminta Rahmat agar dirinya diberi pekerjaan, walau gajinya sekedar cukup untuk makan keluarganya. Menyedeihkan. Tetapi ini adalah fakta yang mungkin saja terjadi diantara sebagian masyarakat kita.
Ini bukan kali pertama terjadi. Masih banyak lagi kasus serupa yang menimpa sebagian generasi kita. Setelah tamat kuliah, bukan siap membuka lapangan pekerjaan melainkan siap menjadi ‘buruh’ yang siap dipekerjakan. Mending jika memiliki keahlian (skill), kalau tidak? Sudah barang tentu kesarjanaan itu hanya akan menjadi lebel formal yang tidak membawa perubahan apapun dalam kehidupan selanjutnya.
Pertanyaannya adalah, masih pentingkah kuliah? Apakah ada jaminan cepat kerja setelah kuliah? Bagaimanapun, menempuh pendidikan yang lebih tinggi merupakan cita-cita luhur. Tetapi bagi orang yang lahir dari keluarga miskin dan tidak sanggup membiayai kuliah, tidak harus berkecil hati dan mengurungkan cita-cita mulia itu. Toh, Rahmat teman saya, akhirnya bisa menjadi sosok yang mandiri dan menyerap tenaga kerja, meski hanya bermodal ijzah D.III kursus membuat roti.
Bila sudah memiliki usaha dan menghasilkan, cita-cita meraih gelar S.1, S.2 sampai selanjutnya bukan hal yang sulit. Masalahnya kemudian adalah, sambil masuk di bangku kuliah, para siswa yang kelak menjadi mahasiswa semestinya sudah dari awal mempertanyakan dalam dirinya, what do you want to be? Setelah ini (setelah tamat kuliah nanti) anda akan menjadi apa? Akan menjasi siapa?
Pertanyaan ini, diharapkan dapat menjadi dorongan bagi setiap calon mahasiswa atau mahasiswa semester awal, agar menyadari bahwa perguruan tinggi bukan jaminan untuk kemudian memudahkan seseorang mendapat pekerjaan. Tetapi sejak awal inilah, tanyakan pada diri sendiri potensi apa yang mesti dikembangkan, sehingga kelak seusai tamat perguruan tinggi, akan dikembangkan menjadi usaha mandiri, menyerap tenaga kerja dan bukan malah memperpanjang barisan pengangguran intelektual.
Oleh sebab itu, jauh sebelum menentukan pilihan jurusan di perguruan tinggi, perlu mempertanyakan diri sendiri tentang potensi apa yang tengah dimiliki saat ini, dan kelak dapat dikembangkan setelah tamat kuliah? Atau minimal sudah ada keinginan dan cita-cita, akan menjadi apa setelah kuliah? Seniman? Wartawan? Penulis Novel? Pengacara? Polisi? Tentara? Pengusaha? Dokter? Politisi? Bidan? Arsitek? Aktor film? Dan lain sebagainya.
Pertanyaan ini menjadi penting artinya, agar ketika seseorang masuk di perguruan tinggi sudah memiliki target akhir, kelak akan menjadi apa setelah menyandang sarjana. Kesadaran ini perlu diciptakan, sehingga kelak ketika di bangku kuliah bukan sebatas menjalani rutinitas perkuliahan mendapat gelar semata-mata. Kalau tujuannya sebatas menyandang gelar di belakang nama, maka sudah dipastikan orang tersebut justeru akan dipusingkan oleh statusnya. Oleh sebab itu ada kelakar setelah tamat kuliah mendapat STTB, bukan Surat Tanda Tamat Belajar, tetapi, Sudah Tamat Tambah Bingung. Kenapa? Karena dari awal tidak menentukan target dan tujuan, untuk apa kuliah. Logikanya, bagaimana mungkin sebuah tim sepak bola akan bersemangat untuk melakukan penyerangan kalau tidak ada target, apalagi kalau bukan untuk menciptakan gol ke gawang lawan. Demikian pula dalam menjalani perkuliahan. (*)

Imron Supriyadi

MENCIPTAKAN "IKLIM" MEMBACA

Tidak ada kata terindah yang pantas kami ucapkan, kecuali Alhamdulillahirobbil ‘alamiin. Ini sebagai wujud rasa syukur kami atas berkah dan limpahan rahmat-Nya, sehingga Majalah Anak Sekolah, PReSTASI Gemilang bisa terbit dan sampai di tangan pembaca. Merupakan kebahagiaan tersendiri, ketika kami dapat memberi sesuatu pada pembaca, khususnya bagi kalangan pelajar dan pada pelaku pendidikan di Palembang, dengan sajian beberapa materi di dalam majalah ini, yang diharapkan dapat memberi manfaat.
Terbitnya majalah ini menjadi bagian dari upaya kami untuk ikut serta dalam menciptakan ‘iklim’ membaca, khususnya di kalangan pelajar, sehingga motto kami “cerdas dan mencerdaskan” dapat mewujud dalam tata nilai, yang bukan saja pada angka-angka di dalam raport melainkan juga pada perilaku keseharian. Minimal, harapan kami adalah majalah ini dapat menjadi salah satu ruang kreatifitas pelajar dan pelaku pendidikan pada umumnya untuk turut serta dalam memberi kontribusi pemikiran terhadap peningkatan mutu pendidikan di negeri ini.
Pada edisi perdana ini, kami sangat menyadari masih banyak kurang dari pada lebihnya. Oleh sebab itu sumbang saran, ide dan gagasan yang membangun selalu kami harapkan demi perbaikan di edisi berikutnya. Untuk itu kami membuka diri kepada pelajar, pelaku pendidikan atau siapapun yang peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan, untuk dapat menyumbang tulisan, foto, karikatur atau bentuk kreatifitas lainnya guna membantu keberlangsungan penerbitan majalah ini.
Kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya majalah ini, kami haturkan banyak terima kasih. Semoga apa yang telah diberikan kepada kami, baik materi atau moril dapat memberi manfaat kepada pembaca, dan mendapat balasan dari Sang Kreator Bumi, Langit dan isinya ini.

Redaksi.