Rasio Sastra, Mengenang Pramoedya Ananta Toer

Oleh M. Arpan Rachman
Penulis adalah Pelaku Seni

“Memiliki seorang pengarang besar bagi rezim yang berkuasa, sama halnya dengan mempunyai sebuah pemerintahan yang lain,” kata Alexander Solzhenitzyn, sastrawan Rusia yang juga pernah dibuang penguasa.
“Setiap manusia yang hidup akan menemui kematian…”


Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan yang menjelma bagai sebuah ikon tentang kebebasan yang dibungkam. Sebagai pengarang, dia mendapatkan nama besar dari penjara ke penjara, menjadi orang hukuman. Mula-mula dijebloskan pada aksi militer I Belanda, kemudian ditahan dan dibuang oleh rezim yang pernah berkuasa di Indonesia.
Di penjara lahir sebagian besar cerita-ceritanya yang terbaik. Cerita-cerita itu antara lain telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Banyak silang-sengketa masih meliputi sosok Pramoedya Ananta Toer sebagai pribadi. Apa sebenarnya alasan rezim penguasa sampai membuangnya ke dalam kamp konsentrasi di Pulau Buru?
“Memiliki seorang pengarang besar bagi rezim yang berkuasa, sama halnya dengan mempunyai sebuah pemerintahan yang lain,” kata Alexander Solzhenitzyn, sastrawan Rusia yang juga pernah dibuang penguasa. Mungkin saja terpenjaranya Pramoedya dan Solzhenitzyn dapat dihubungkan: karena sama-sama mempunyai nama besar sebagai “pemerintahan yang lain” yang mengeluarkan komunike melalui karya-karya sastra. Dan pertanyaan tersebut dianggap terjawab.
Membaca kumpulan cerita pendek Pramoedya Ananta Toer berjudul Percikan Revolusi Subuh ternyata dapat juga menerbitkan rasa haru yang mendalam. Cerpen-cerpen yang dalam kata pengantar HB Yassin, “…terkarang semasa pengarang(nya) berada dalam tahanan semenjak aksi militer-I tanggal 21 Juli 1947 sampai tahun 1949.”
Memadukan dua judul kumpulan berbeda yang pertama kali terbit di tahun 1951. Berisi dua belas judul cerpen yang ditulis dalam langgam ekspresif: karya pengarang kawakan yang pada suatu zaman buah pikirannya pernah diberangus dan dilarang karena dianggap subversif dan melawan kekuasaan.
Beberapa di antara cerpen-cerpen itu sarat dengan muatan aspek religiusitas (keagamaan) yang seperti mengesahkan diktum: pada awal mula, segala sastra adalah religius (YB Mangunwijaya, 1992). Muncul firasat Pramoedya akan akhirat, misalnya …Sekiranya kulit bumi ini merendah dan kemudian air samudera menggenang dahsyat–manusia akan seperti semut disiram air panas…(halaman 28: cerpen berjudul Gado-gado) yang menyiratkan nuansa tentang hari kiamat.
…Peluru musuh yang seperti kunang-kunang beterbangan, tak sebuah pun yang mengenainya. Tuhan masih melindungi…(60: Ke Mana) yang mengandung pengertian bahwa sang tokoh adalah orang yang mempercayai adanya kekuatan Yang Maha Kuasa.
atau, …Dengan tiba-tiba saja mereka yakin akan adanya Tuhan… (69: Kemelut). Tokoh Abdul dan Maliki adalah dua nama Islami (75: Masa). Percakapan antara Karel dan Willem: dua orang Nasrani (81-97: Orang Baru).
…Dan barulah aku mengerti: ia bersembahyang…(104: Kawanku Se-Sel).
…Tapi yang aneh: doa dan harapanku supaya tak lagi bertemu dengannya terkabul. Aku telah berdosa padanya… (167: Jalan Kurantil 28).
…Dan Tuhan yang satu dan tak terpecah-belahkan itu dipinta untuk memenangkan dua pihak yang bunuh-membunuh: puncak kebebalan manusia! (180: Dendam).
Cerpen-cerpen itu bercerita banyak tentang religiusitas sebagai bagian gagasan yang hendak disampaikan pengarangnya. Terlepas dari masih adanya silang-sengketa sementara kalangan terhadap Pramoedya Ananta Toer yang dulu pernah dihujat karena ditengarai mengekang kebebasan sesama sastrawan. Sekarang di jalan-Nya yang lapang, tentu Pram dengan sendirinya termaafkan.
Rasio yang dapat dijadikan sebagai kacamata mikroskopis tentang sastra yang merupakan wujud emblematik kebudayaan literer yang hidup di dalam masyarakat sekaligus sebagai locus genus bermuara pada khasanah budaya Melayu karena dari kebudayaan tersebut bangsa Indonesia memiliki bahasa ibu, yakni dengan menerapkan karya sastra menjadi logos keilmupengetahuanan bagi generasi muda sejak usia dini sebab dengan cara itulah sastra benar-benar bisa menjadi hak-milik intelektual yang dapat diteoretisasikan dan dipraktikkan serta dipelajari dan diabadikan.
Bangsa yang besar ini tentu tidak ingin mengulangi sejarah buruk berbagai khasanah budaya sastra tutur yang diliterasikan secara oral pada zaman dahulu kala, tetapi jangankan gagasan menjadikannya sebagai salah satu materi pembelajaran untuk umum, bahkan upaya-upaya pendokumentasiannya pun seringkali tidak kunjung dilakukan secara teliti dan memadai, sehingga banyak karya dari khasanah budaya tersebut akhirnya hilang ditelan zaman.
Bila pandangan negatif seperti yang dikatakan Solzhenitzyn terus dibiarkan, secara ironis karya kesusastraan termasuk cerpen-cerpen pramoedya Ananta Toer akan tinggal sebagai artefak budaya akulturasi belaka: karya-karya kesusastraan yang dilestarikan oleh orang asing di dalam museum dan ruang pembicaraan publik di negeri mereka saja.
Tetapi sejarah perunutan kelestarian sebuah karya, terutama karya-karya kesusastraan, tidak mungkin dapat menampik asal-usulnya sendiri sebagai bagian dari “sesuatu yang hilang”. Soalnya mungkin saja sastra Latin adalah hasil proses akulturatif juga: sebuah locus genus yang berawal entah dari mana kemudian terbawa angin hingga ke jalan menuju Roma, yang dapat dijejaki pembentukannya sejauh sejak huruf hiroglif pertama ditemukan.
Lalu jejak rasio sastra merentang jalinan the-missing-link panjang sampai kepada khasanah Melayu, yang tidak lebih dari pengembangan salah satu cabang sinologi dengan unsur kental hinduisme karena menurut sejarah (lagi-lagi!) nenek-moyang kita berasal dari India Belakang atau Yunan --salah satu provinsi miskin di Cina sekarang–yang kemudian berinteraksi dengan kaum pedagang Gujarat (karena itulah maka kita dikenalkan oleh kaum orientalis sebagai Hindia). Atau estimatika lain: kita dan dan sastra kita sebenarnya merupakan bagian pemberontakan terstruktur yang bercampur-baur dalam proses kebanalan, sehingga menjadi genre berciri khas timur yang eksotis dan penuh dengan misteri.
Sastra dalam masyarakatnya, memang harus hidup tanpa menengahi atau menyingkirkan bidang-bidang kehidupan lainnya, terkecuali politik dan kekuasaan yang berlangsung serba-salah atau berat-sebelah sebab kesusastraan ada (hadir) bukan untuk mengada-ada, melainkan hanya sekadar penanda ingatan kolektif zaman sebelum masyarakat di tempat mana sastra itu tumbuh, terjerumus ke dalam situasi dead man society atau mati suri teladan (Fajrullah, 2004).Karya-karya para empu di zaman kejayaan kerajaan-kerajaan di nusantara klasik misalnya, barangkali tidak lebih bernilai susastra daripada karya-karya anonim yang memasyarakat di luar tembok istana. Bukankah belum tentu kitab Kalatida lebih baik secara sastrawi dibandingkan dengan kitab-kitab pasaran tanpa nama terbuat dari daun lontar tua yang dibaca luas rakyat kebanyakan? Atau syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji mungkin tidak lebih cemerlang nilai sastranya ketimbang Zubaidah Sitti dari empu Al Lintani, misalnya? Seperti banyak juga dikenali ahli sastra yang tidak berambisi menjadikan dirinya termasyhur sebagai sastrawan. Seperti halnya banyak dijumpai ilmu tafsir terhadap naskah-naskah kesusastraan yang kemudian akhirnya mengetengahkan karya sastra ditafsirkan bukan sebagai berhala.(*)

JEBAKAN AKADEMIK

Oleh Darwin Syarkowi
Praktisi Radio Smart FM Palembang

Runtuhnya Peguruan Shaolin Kung Fu, bermula dari keengganan seorang guru (Master Shaolin) menularkan ilmunya secara utuh kepada para muridnya. Ibaratnya, dari 72 jurus Kung Fu Shaolin, ada satu jurus yang tidak diajarkan kepada muridnya. Bukan karena tidak ada waktu untuk melatihnya, tetapi bermula dari keengganan Sang Guru Shaolin mengajarkannya secara lengkap dan utuh. Bagaimanapun, seorang Master Shaolin tidak ingin ada murid yang bisa melebihi kehebatan ilmunya. Akibatnya, para murid perguruan yang bermula dari Pegunungan Shongsan, Provinsi Henan, Cina ini tetap berada dibawah Sang Guru.
Dari generasi ke generasi, keutuhan jurus di Perguruan Kung Fu Shaolin kian berkurang. Dalam setiap generasi mengurangi satu jurus. Hingga akhirnya, Perguruan yang didirikan Batuo, seorang pendeta India sekitar tahun 495 M ini, kini tinggal sebuah legenda, meskipun ada beberapa negara yang tetap mengembangkannya. Tetapi semua itu jauh dari keaslian dari 72 jurus Kung Fu Shaolin yang sebenarnya, ketika perguruan ini didirikan di pegunungan Siaw Lim (gunung kecil), Cina.
Kontekstualisasi antara dunia Shaolin dan dunia pendidikan kita, saya pikir tidak jauh berbeda keadaannya. Dari sebagian tenaga didik (guru dan dosen) di sekolah atau dosen di kampus perguruan tinggi, ada saja mentalitas tenaga didik yang tidak ingin mempunyai anak didik yang ilmunya melebihi dirinya. Atau minimal, sebagian tenaga didik di negeri ini tidak ingin ada salah satu anak didiknya yang agak ‘aneh’ di dalam kelas dan ruang kuliah, apalagi diberi peluang untuk protes, menyanggah pendapat sang guru dan sang dosen.
Bagi sebagian anak didik yang mencoba ‘berani’ memberi argumentasi dalam sebuah diskusi di dalam maupun di luar kelas, anak didik tidak jarang harus berhadapan dengan ancaman nilai akademik, sebagai akibat ‘melawan tenaga didik’ tadi. Protes dan mengritik, di negeri ini masih terus dianggap tabu, atau bahkan dianggap satu kejahatan yang seolah tidak akan mendapat pengampunan, kecuali harus dikeluarkan dari lingkungan lembaga pendidikan alias di-drop out (DO).
Secara historis, perilaku dan sikap ‘anti kritik’ yang hingga kini masih tertanam pada sebagian tenaga didik, tidak lain sebagai akibat dari hegemoni ideologi Orde Baru (Orba) yang selama 30 tahun lebih telah berhasil membungkam mulut, hati dan sikap kritis dari 150 juta rakyat Indonesia, meskipun ini bukan faktor satu-satunya. Tetapi apapun alasannya, proses pembungkaman dan pengebirian daya kritis yang dilakukan Orba di era Soeharto (1968-1998), telah mencerabut keberanian berbeda pandangan antara satu sama lain. Akibatnya, murid di sekolah, mahasiswa di kampus juga dipaksa harus berpikir sama dengan dosen, minimal jangan sampai ilmu anak didik melebihi yang mendidik, apalagi harus melakukan protes.
Protes dengan mengeluarkan segala argumentasi akademik di depan guru dan dosen, sampai hari ini seakan menjadi gumpalan dosa. Anak didik, baik siswa dan mahasiswa secara intelektual, kesannya harus tetap berada di bawah dosen dan guru. Sama halnya nasib para murid Shaolin yang tidak boleh lebih hebat ilmunya dari Sang Pendekar.
Mentalitas seperti itu kemudian menggurita pada diri pada sebagian tenaga didik. Akibatnya, anak didik harus tunduk dan patuh pada guru, dosen atau ikut sistem yang berjalan, meskipun sistem yang diterapkan menawakan jebakan tehadap masa depan anak didik itu sendiri. Yang terjadi kemudian, jutaan anak didik di negeri ini usai menamatkan sekolah dan kuliahnya, bukan tumbuh kemandirian berpikirnya, melainkan yang berkembang adalah penumpulan kreatifitas. Kondisi ini sama persisnya ketika jutaan ratkat Indonesia di masa Orba harus mikul nduwur mendem njero, (menyembunyikan keburukan atasan di dalam hati, demi kebaikan fisik yang palsu). Bahasa lainnya adalah, lain di mulut lain di hati, yang penting Asal Bapak Senang (ABS).
Sikap berbeda pandangan anak didik terhadap tenaga didik, sebaiknya dari sekarang sudah dibudayakan di setiap lembaga pendidikan. Tujuanya bukan untuk saling salah dan menyalahkan, tetapi dengan perdebatan ini, akan menumbuhkembangkan wawasan keduanya, sekaligus akan melahirkan kajian baru tentang tema yang tengah diperdebatkan itu. Bukan malah sebaliknya, tenaga didik kemudian mengancam yang bersangkutan dengan nilai buruk atau dikeluarkan dari lembaga pendidikan.
Inilah bedanya antara pola dan sistem pendidikan kita dengan negara berkembang, sebut saja Jerman. Meski hanya dua minggu, tetapi saya di negeri itu banyak mendapat pelajaran, betapa sistem pendidikan di negeri ini sama sekali menerapkan pola yang tidak mendorong kreatifitas dan kemandirian anak didik. Di Jerman, perdebatan antara guru dan murid sudah menjadi hal biasa. Kritik, protes dan perang argumentasi menjadi sesuatu yang seolah diwajibkan harus terjadi. Sebab dengan cara itulah, murid dan guru bisa terdorong untuk sama-sama menggali, untuk kemudian di lain hari dipedebatkan kembali dengan tambahan literatur dan hasil penelitian.
Hal lain yang menjadi perbedaan prinsip adalah, di negeri ini nilai akademik seakan menjadi simbol sakral (angka suci) yang mesti dikejar dan diagungkan. Deretan nilai akademik diatas angka tujuh telah menjadi jaminan kecerdasan anak didik. Padahal, jajaran angka di raport, ijazah dan hasil kartu studi (KHS), hanya seujung kuku dari proses pejalanan akademik, bukan tujuan akademik itu sendiri. Tetapi di negeri ini, angka menjadi standar nilai kepintaran dan kecerdasan anak didik. Oleh karenanya, sampai saat ini anak didik, baik di sekolah maupun di kampus sering kali terjebak pada kubangan nilai akademik, bahkan kalau bisa cumlaude (prestasi sangat memuaskan di peguruan tinggi), meski harus kasak kusuk dengan dosen pembimbingnya. Yang meyedeihkan, dosen dan guru membuka diri bermain dalam jebakan akademik tadi.
Pertanyaannya sekarang, bila nilai akademik menjamin kecerdasan anak didik secara intelektual dan secara sosial, mengapa perguruan tinggi tetap menjadi mesin pembuat jutaan pengangguran intelektual? Atau berapa persen alumnus SMK yang sanggup berdikari di kaki sendiri dalam menghidupi keluarganya? Jauh dari target. Ini sebagai akibat, pemenuhan kualitas anak didik bukan pada bagaimana mereka didorong bisa mandiri, tetapi sebagian tenaga didik kita hanya menyampaikan teori akademik dari buku ke buku, tanpa mempertimbangkan bagaimana anak didik juga harus cerdas secara sosial di tengah kompetisi global.
Bila kemudian Mendiknas Bambang Sudibyo menggagas terhadap pentingnya peningkatan persentase SMK 70% dan SMA 30%, untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia, bagi saya ini hanya akan menjadi utopia (hayalan) belaka, selama pola pikir, mindset (cara pandang) setiap tenaga didik di sekolah dan di kampus tidak dimulai dengan pijakan bagaimana pesan pendidikan itu seharusnya bukan sebatas meng-agungkan nilai akademik, tetapi juga mendorong kreatifitas anak didik. Tujuannya, di kemudian hari cara berpikir anak didik bukan terjebak bagaimana setelah selesai pendidikan menjadi karyawan perusahaan dan menjadi pegawai negeri sipil semata, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah, bagaimana membangkitkan sikap enterpreunership (kewirausahaan) pada diri setiap murid.
Kesiapan berbeda pandangan antara anak didik dan tenaga didik menjadi awal mula untuk membangkitkan kreatifitas dan kemandirian itu. Sebab, dengan membiarkan guru dan dosen sebagai sumber “kebenaran mutlak” sementara anak didik hanya menjadi pendengar setia tanpa boleh mendebatnya, maka proses pencerdasan sosial bagi anak didik hanya akan menjadi hayalan belaka. Selama pola ini tidak dirubah, sudah barang tentu, gagasan Mendiknas itu juga hanya akan menjadi legenda, sebagaimana gagasan Mendiknas era Soeharto, Wardiman Djoyonegoro tentang sistem link and mach, yang hanya berjalan seumur jagung.(*)

PUISI SISWA

PUISI PUTRI PRATIWI
SMA PTBA TANJUNG ENIM



AKU


Aku adalah lumpur hitam
Yang mendebu
Menempel di sandal dan sepatu
Hinggap di atas aspal
Terguyur hujan
Terpelanting
Masuk comberan
Siapa sudi memandang
Atau mengulurkan tangan?
Tanpa uluran tangan Tuhan
Aku adalah lumpur hitam yang malang

Tanjung Enim.000000

CINTA
Seandainya kamu tahu
Yang selalu kupikirkan hanyalah
Dirimu, ku selalu teringat dengan dirimu

Ku hanya bisa memikirkan dirimu
Dalam hatiku
Ku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikan abu
Seperti kata yang tak sempat
Diucap awan keada hujan yang
Menjadikan tiada

Tanjung Enim.000000

TUHAN
Kulafazdkan namaMu di setiap
perkataanku
Kutancapkan namaMu di detak
jantungku
Kutakkan bisa untuk melupakan-Mu
Walau sesaat
Tanpa Engkau aku takkan bisa
Berbuat apa-apa
Karena Engkau aku bisa hidup dan
Karena Engkau juga aku bisa tiada

Tanjung Enim, 000000


PERJUANGAN

Ada saatnya kita berjuang mengejar
Impian, ada kalanya juga kita mesti
Menerima jalannya takdir

Kapal teah berlayar dan
Terlalu bodoh untuk mengejarnya
Kadang sesekali dalam hidup kita
Mesti jadi orang bodoh
Setidaknya kita bisa belajar
dari kesalahan

Tanjung Enim, 000000


KASIH

Tulusku ucapkan kata
Cinta seindah mutiara
Berkilau bagai embun surga
Harum semerbak kasturi
Tebarkan wangi
Kaulah kekasih kekal abadi
Sirami jiwa yang hampa ini

Tanjung Enim, 000000

MEMBELI CANGKUL UNTUK SAWAH KERING

Laporan Yusron Masduki & Imron supriyadi


Irian Nasri, Pimp.Utama AMIK Bina Sriwijaya Palembang

Modernisasi teknologi informasi yang ditingkahi oleh industrialisasi di satu pihak mnjadi bagian fenomena kemajuan zaman. Tetapi di pihak lain, kondisi ini makin mempertajam persaingan hidup, bukan pada kompetisi dalam dunia kerja semata tetapi juga dalam mencari kebutuhan hidup itu sendiri. Tidak ada jalan lain, dalam menghadapi perkembangan dunia teknologi dan persaingan di bursa kerja diperlukan keterampilan khusus yang kelak akan diserap oleh instansi negeri dan swasta. Demikian secuil kutipan dari obrolan kecil dengan Direktur AMIK Bina Sriwjaya Palembang, Irian Nasri, MS.,SE di ruang kerjanya pekan lalu.
Pernyataan Rian, panggilan akrab orang nomor satu di AMIK Bina Sriwjaya Palembang terkait erat dengan gagasan Menteri Pendidikan Nasional, (Mendiknas) Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo tentang pentingnya peningkatan jumlah persentase SMK 70% dan SMA 30%. Rian menilai, ada perbedaan sangat tampak antara SMK dan SMA. Bagi SMA memang dipersiapkan untuk melanjutkan kuliah. Sementara di SMK dipersiapkan untuk bekerja. “Kalau tamat SMA kemudian tidak melanjutkan kuliah, mereka akan sulit masuk di dunia kerja. Sebab, di bangku SMA memang tidak seperti di SMK, yang lebih banyak membekali siswanya dengan keahlian (skill) tertentu. Sementara di SMA memang dipersiapkan untuk melanjutkan kuliah,” tukas Rian lagi.
Dengan kenyataan inilah, menurut Rian, melalui program yang digagas Mendiknas ini minimal dapat memberi dorongan kepada siswa sekolah untuk membekali diri dengan keterampilan, baik alumnus SMA atau SMK itu sendiri. “Sekarang sudah banyak lembaga diploma atau lembaga pendidikan kursus yang bisa membantu dalam penguasaan skill. Bina Sriwijaya salah satunya di Palembang. Ini sengaja dibuka untuk mengiringi persaingan global tadi, sehingga gagasan Mendiknas dan upaya mengurangi jumlah pengangguran ini bisa terwujud seiring dan sejalan,” tegasnya.
Senada dengan itu, Drs.H.A.Fathoni Husin Umrie, Kepala Seksi Kursus dan Kelembagaan Pendidikan Luas Sekolah (PLS) Disdikpora Palembang menyatakan, pola SMK 70% dan SMA 30% harus didukung adanya perubahan dari muatan kurikulum. Artinya, menurut Fathoni karena ini menyangkut pemenuhan kebutuhan keterampilan siswa, khususnya di SMK, maka muatan kurikulum yang mengarah pada kompetensi keilmuan keterampilan siswa menjadi penting. Sejak awal, lanjut Fathoni siswa di SMK sudah diberi materi dan kurikulm yang lebih fokus pada keilmuan di masing-msing bidang. ”Sehingga disaat mereka keluar dari sekolah, mereka sudah siap bekerja, bahkan siap untuk membuka lapangan pekerjaan,” tegas Fathoni ketika dibincangi PRESTASI gemilang, pekan lalu.



Sutikno Jayanegara, Pimp.Cabang Master Komputer Palembang
Tuntutan alumnus setingkat SLTA yang tidak melanjutkan kuliah kian hari memang makin dihimpit oleh berbagai tantangan. Masalahnya kemudian adalah tinggal bagaimana membekali diri dengan segudang keterampilan guna menyongsong persaingan di dunia kerja. Menghadapi kondisi yang dinilai banyak pihak sebagai era yang sempit lapangan kerja, setiap alumnus SMA dan SMK atau siapapun juga memerlukan alat sebagai sarana menghalau bermacam tantangan global.
Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Profesional Master Komputer Palembang, Sutikno Jayanegara, A.Md menilai tugas dari sekian banyak lembaga kursus profesional setingkat diploma adalah memberi tambahan keterampilan. Masalah apakah mereka kemudian mendapat lapangan pekerjaan atau tidak, bukan wewenang lembaga itu sendiri. “Tetapi kami dan kawan-kawan lain yang mengelola lembaga pendidikan diploma, melakukan upaya untuk mengarahkan mereka untuk bisa mendapat lapangan pekerjaan. Diantaranya dengan memagangkan mereka di instansi, ada lagi onthe job trining dan lain sebagainya. Ini dilakukan supaya mereka bisa berkompetisi ketika menyelesaikan pendidikan,” ujar ayah dari satu anak ini kepada PRESTASI gemilang di ruang kerjanya pekan lalu.
Desakan kebutuhan ekonomi yang di dera oleh makin sempitnya lapangan pekerjaan, meminjam istilah motivator Indonesia Andre Wongso, menjadi situasi yang menuntut setiap orang harus bersedia berlaku keras terhadap diri sendiri. Berlaku keras yang dimaksud adalah memacu diri untuk terus mencoba dan mencoba, sehingga keberhasilan akan makin dekat dengan siapa saja. Seiring dengan itu, menurut Sutikno setiap lembaga pendidikan profesional setingkat diploma yang menitikberatkan pada penguasaan keterampilan tertentu, bukan saja dituntut membekali mahasiswa dengan berbagai skill, tetapi jauh lebih penting dari itu juga mendorong mereka untuk siap membuka lapangan pekerjaan. “Pola pengajaran di setiap lembaga non fomal seperti kami ini, juga dihadapkan tantangan bagaimana para alumnusnya bukan sebatas menciptakan sumber daya manusia yang siap kerja, tetapi mereka juga kami dorong untuk siap membuka lapangan kerja,” tukasnya.
Tuntutan penguasaan keterampilan dan keahlian tetentu menjadi keharusan di tengah ketatnya persaingan bursa kerja di Indonesia. Tetapi menjadi poblematis disaat lembaga non formal seperti lembaga-lembaga kursus membekali keterampilan, sementara peluang kerja kian hari kian sempit. Sama halnya mencari cangkul untuk sawah kering. Yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana mengolah sawah kering menjadi lahan produktif, tanpa harus menunggu turunnya hujan, sehingga kepemilikan cangkul tetap dapat berdaya guna untuk membangun bangsa yang mandiri.(*)

“SMK, JANGAN HANYA BERUBAH BUNGKUS”

WAWANCARA DENGAN REKTOR UMP
H.M. IDRIS, SE.,Ms.i



Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Kabinet Bersatu, Prof.Dr.Bambang Sudibyo menggulirkan program terhadap pentingnya penguasaan skill bagi almunus setingkat SLTA. Gagasan itu tertuang pada pentingnya penambahan jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi 70% dan Sekolah Menengah Umum (SMU) menjadi 30%. Target dari program ini untuk mengurangi jumlah pengangguran, terutama para alumnus setingkat SLTA. Lantas bagaimana tanggapan Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), H.M.Idris, SE.,M.Si terhadap gagasan ini? Berikut wawancara Yusron Masduki dan Imron Supriyadi, dari PReSTASI gemilang. Petikannya.
Mendiknas menyatakan tentang perlunya penambahan jumlah persentase SMK 70% dan SMU 30%. Komentar anda?
Sebelum muncul ide itu, dulu kita kenal dengan beberapa sekolah yang sudah mengarah pada spesialisasi keilmuan. Ada Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Sekolah Guru Oleh Raga (SGO), ada Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dan lain sebagainya. Tetapi ketika para alumnus sekolah-sekolah itu kemudian tidak bisa tertampung dalam dunia kerja, maka yang terjadi kemudian jumlah pengangguran semakin banyak. Nah, pemerintah sepertinya tidak ingin jumlah pengangguran ini terus bertambah, sehingga beberapa sekolah kejuruan dikurangi, bahkan kemudian ditutup. Yang ada hanya SMA menjadi SMU yang sifatnya umum, dengan harapan setelah SMA mereka melanjutkan ke perguruan tinggi dalam meningkatkan skill supaya mampu bersaing dalam dunia kerja.
Tentang gagasan Mendiknas tadi bagaimana?
Ya, saya sepakat dengan gagasan itu. Tetapi yang perlu dibenahi adalah, bagaimana materi atau kurikulum di dalam SMK itu yang mesti dititikberatkan pada penguasaan skill di bidangnya masing-masing.
Maksudnya?
Begini, kalau memang Mendiknas sudah menggulirkan program ini, yang perlu diperhatikan bagaimana muatan pelajaran di SMK itu sudah mengarah pada penciptaan siswa yang kreatif dan kemandirian setelah mereka selesai. Maksud saya, di SMK itu mata pelajarannya tidak harus seperti di SMU atau SMA. Misalnya, kalau di SMK khusus bidang elektronik, listrik ya cukup diberi materi dan pelajaran tentang bagaimana bisa menguasai bidang elektronik dan listrik. Tidak perlu ada pelajaran kimia, biologi dan beberapa pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan jurusan mereka. Jurusan mesin juga begitu, pelajarannya fokus saja tentang pengetahuan mesin, otomotif juga begitu, berikan materi kepada siswa SMK yang memang dapat memberi bekal keilmuan yang lebih spesifik pada jurusannya masing-masing. Sehingga, ketika mereka keluar dari SMK akan benar-benar menguasai sekaligus dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dari sekolah. Makanya, menurut saya yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana mengembalikan porsi SMK pada spesialisasi keilmuan atau pelajaran yang langsung menjurus pada masing-masing kahlian yang diminati siswa tadi.
Dengan gagasan ini, menurut anda apakah ada jaminan akan dapat mengurangi jumlah pengangguran?
Selama gagasan Mendiknas ini tidak diikuti dengan pembenahan materi, maksud saya tidak diikuti dengan mengembalikan porsi SMK dengan materi dan kurikulum yang menjurus pada spesialisasi keilmuan bagi siswa, saya tidak bisa menjamin jumlah pengangguran itu berkurang. Tetapi kalau kemudian gagasan ini diimbangi dengan perubahan kurikulum di SMK dan menitikberatkan pada bidang keilmuan di semua jurusan, saya yakin dengan gagasan ini jumlah pengangguran ke depan bisa berkurang. Jadi, kalau memang gagasan Mendiknas ini akan dimaksimalkan untuk mengurangi jumlah pengangguran, ya SMK harus ada perubahan kurikulum, jangan hanya berubah bungkusnya saja, tetapi isinya tidak dibenahi, itu tidak ada artinya.
Setelah selesai, sebagian alumnus SMK tidak cukup punya modal untuk membuka usaha. Padahal diantara sebagian mereka tidak sedikit yang siap membuka bengkel atau usaha, tetapi karena keterbatasan modal mereka masih menganggur. Bagaimana solusinya?
Ya. Ini juga sangat dilematis. Di satu sisi mereka memiliki skill. Tetapi di sisi lain mereka tidak punya modal. Ini memang realitas yang mesti dihadapi oleh banyak pihak. Bukan saja alumnus SMK itu sendiri, tetapi juga bagi pemerintah. Tetapi sekarang kan sudah banyak bantuan dari beberapa perusahaan, instansi terkait yang dapat memberi pinjaman dana bergulir. Nah, ini bisa dimaksimalkan.
Menurut anda bentuknya hibah atau pinjaman?
Bukan. Bukan hibah. Tetapi yang namanya dana bergulir itu sifatnya pinjaman. Dengan cara ini si peminjam ada tanggungjaab untuk mengembalikan. Dan satu hal yang perlu diberitahu pada si peminjam adalah, bagaimana si peiminjam diberitahu kalau tidak mengembalikan akan dapat merugikan orang lain, karena setelah ini masih ada lagi yang menunggu pinjaman. Dengan cara ini, setiap alumunus SMK yang diberi dana bergulir punya beban tanggung jawab untuk mengembalikan, karena kalau tidak mengembalikan sama halnya merugikan temannya sendiri.
Untuk memenuhi persaingan pasar, apa yang mesti dilakukan bagi para pengelola SMK?
Tentu perubahan kurikulum yang saya sebut tadi. Selanjutnya, menyiapkan semua perangkat, alat praktik yang memadai. Ini terkait erat dengan tujuan materi di SMK itu sendiri, yaitu mendidik siswa agar mereka memiliki keahlian tertentu. Dan ini tidak bisa sekedar teori tetapi harus praktik langsung. Untuk melakukan praktik kerja ini jelas, di SMK wajib memiliki ruang khusus, paralatan dan ruang praktik yang dapat mendorong penguasaan siswa terhadap bidang di masing-masing jurusan. Dan semua perangkat itu biayanya tidak murah.(*)

BERMIMPI MENJADI CHINA KEDUA


Peningkatan jumlah SMK menjadi 70% dan SMA 30 % ditargetkan terwujud
di tahun 2014. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional, Joko Sutrisno merasa optimis bila SMK berkembang sesuai rencana, Indonesia akan bisa menjadi China kedua dalam hal industri.
Perlu peubahan sistem pendidikan?

***
Carilah Ilmu sampai negeri China. Demikian sebuah syair arab yang sering dijadikan sandaran sebagian orang. Meski tidak secara langsung berdasar pada syair itu, tetapi syair ini dapat selaras dengan cita-cita melambung terhadap target peningkatan jumlah SMK 70% dan SMA 30% yang menurut Joko, bila progam ini berjalan sesuai rencana, bangsa ini akan dapat menjadi China kedua.
Berkiblat ke China dalam hal industri memang bukan satu dosa bagi negeri Garuda Pancasila ini. Sebab, sebagaimana banyak dilansir media, faham komunis dan sistem politik tertutup yang dianut negara China dulu, bahkan dijuluki negara Tirai Bambu– mengakibatkan China sedikit dikucilkan dalam pergaulan internasional. Dari segi wilayah dan penduduk dan wilayah, China sangat tidak mungkin untuk dikucilkan, tapi kenyataan menunjukan hal demikian.
Hal ini disadari oleh Deng Xiaoping. Sejak Xiaoping memegang tampuk kekuasaan pada akhir 1970-an, PKC (Partai Komunis Cina) telah menegaskan legitimasinya dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan menggunakan kekuatan ekonominya sebagai pendogkrak untuk mendapatkan pengakuan yang lebih besar secara internasional.
China memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 zona ekonomi khusus Special Economic Zones (SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi penduduk hampir 1,25 miliar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita. China menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Cina adalah $1.300, atau 1.3000.000,- per keluarga. Angka ini bila harga dollar sebesar Rp. 10.000,-. Dengan demikian dapat diperkirakan, satu orang karyawan di China dalam satu bulannya mendapat penghasilan 108,3 juta rupiah lebih.
Dengan perkembangan ekonomi seperti itulah, China diyakini sebagai salah satu negara yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah China. Kekuatan ekonomi ditunjukkan dengan proses industrialisasi yang mapan dan hasil produksi yang besar juga. Di beberapa industri, terutama industri padat karya, China menjadi pemain global yang dominan saat ini. Pabrik-pabrik China memproduksi 70% mainan, 60% sepeda, setengah industri memproduksi sepatu, dan sepertiga industri memproduksi tas di dunia. China juga memproduksi setengah oven microwave (alat memanggang) di dunia, sepertiga televisi dan perangkat AC, seperempat mesin cuci di dunia, dan seperlima lemari es-nya. Produk ini menunjukan pesatnya pertumbuhan ekspor China. Tetapi China tidak bisa mendapatkan hal-hal ini tanpa minyak. Untungnya China bisa mengimpor cukup banyak untuk menutupi kekurangannya itu. Namun, kebergantungannya pada komoditas asing hingga sebesar 40% dari seluruh kebutuhannya itu telah membuat China benar-benar terjebak dalam posisi sulit.
Dalam catatan lain disebutkan, dua puluh tahun lalu China menjadi negeri eksportir minyak terbesar di Asia Timur, yang sangat tergantung dengan negara lain. Tetapi saat ini, China telah menjadi importir minyak terbesar nomor dua di dunia. Pada 2004, China membukukan sekitar 31% dalam peningkatan permintaaan minyak dunia. Sehingga, naiknya harga minyak hingga diatas $60 per barel pada pertengahan 2005 bisa dibilang disebabkan oleh tingginya permintaan China.
Dengan liberalisasi perekonomiannya, lompatan besar China terbukti berhasil hanya dalam tempo sekitar tiga dasawarsa. Pertumbuhan ekonominya kini tercatat paling tinggi di dunia, ditambah surplus perdagangan yang luar biasa. Investasi asing mengalir deras. Dengan rakyat sekitar 1,3 miliar atau 20% dari penduduk dunia, ditambah ongkos tenaga kerja yang murah, China merupakan pasar yang sangat menggiurkan. China is the hottest business and investment story on the planet, demikian majalah Time dalam suatu artikelnya dua tahun lalu. Ungkapan tersebut kini semakin nyata. Peningkatan pertumbuhan ekonomi China pada akhirnya mempengaruhi tatanan ekonomi global. Menurut Biro Statistik China pada 19 April 2007, di triwulan pertama 2007 ekonomi China tumbuh 11,1 %, dengan cadangan devisa mencapai 1.2 trilliun dollar AS. Selain itu surplus perdagangan China pada bulan Mei 2007 mencapai 22,45 miliar dolar AS, atau naik 73 % dibanding tahun sebelumnya dan tertinggi kedua setelah surplus pada bulan Februari yang mencapai 23,7 miliar dolar AS.
SEZ di China
Terciptanya Special Economic Zone (SEZ) sebagai surga investasi baru memang tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah China mengembangkan kawasan ekonomi khusus di beberapa provinsi. Strategi ini sesungguhnya sudah dilakukan di China yang sebelumnya belajar dari Singapura. Dalam paper China’s Special Economic Zones: Five Years After An introduction di Asian Journal of Public Administration terbitan 13 Sepetembr 2005, yang ditulis oleh Chung-Tong Wu, seorang pembantu professor di Department of Town and Country Planning, University of Sydney, disebutkan bahwa, konsep SEZ di China dibangun seperti membangun sarang burung Walet. Konstruksi fisik bangunan dirancang sedemikian rupa agar burung-burung itu lebih dulu dirangsang dengan bunyi-bunyian agar tertarik membuat sarang di dalam bangunan tersebut.
Bangunan-bangunan ini yang pertama kali muncul dan merebak di mana-mana. Ibarat membangun sarang untuk menarik burung, kota-kota di seluruh daratan China dirancang untuk menarik penanaman modal yang tidak hanya dicerminkan oleh berbagai kemudahan regulasi, prasarana dan sarana pembangunan bagi investasi dan lainnya, tetapi juga kesiapan berbagai kota di daratan China dalam memberikan kenyamanan maupun kemudahan orang-orang asing (khususnya) untuk menanamkan uangnya. Wu melaporkan, akibat kemajuan ekonomi yang tumbuh 9% berturut-turut dalam kurun waktu dua dekade, muncul juga kebutuhan di kalangan kelas menengah untuk menikmati arti kemajuan dan kesejahteraan ekonomi. Dengan demikian, tidak mengherankan jika ratusan pekerja terlihat sibuk di berbagai proyek bangunan dan prasarana umum di berbagai kota. China kemudian menjadi sebuah negara yang paling sibuk dalam pembangunan. Dan, pembangunan berbagai wilayah di seantero daratan China ditujukan untuk mengekspresikan kemajuan-kemajuan yang selama ini dicapai trickle down effect (TDE). Dalam konteks SEZ, landasan teori yang dianggap cukup tepat menggambarkannya adalah penjelasan atas tiga model pembangunan.
Model pembangunan yang tepat untuk mendeskripsikan SEZ adalah model yang berorientasi pada pertumbuhan (economic growth), dalam hal ini meningkatkan pertumbuhan investasi asing dengan melahirkan kawasan-kawasan ekonomi khusus. Model ini menjelaskan kenaikan pendapatan nasional dalam jangka waktu misal per tahun. Tingkat pertumbuhan ekonomi mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, proses pembangunan menjadi terpusat pada produksi, antara lain melalui, akumulasi modal, termasuk semua investasi baru dalam bentuk tanah, peralatan fisik dan SDM. Peningkatan tenaga kerja baik secara kuantitas maupun kualitas. Kemajuan teknologi yakni cara baru untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat tradisional. Dalam konsep economic growth, maka trickle down effect (TDE) menjadi sasaran utama karena menyebabkan rembesan kemakmuran ke bawah. Misalnya, investor yang diberikan kemudahan fasilitas pajak atau perizinan akan membangun kawasan-kawasan industri yang menyerap ribuan tenaga kerja. Setelah itu rembesan akan menghidupkan kawasan sekitar dengan hidupnya sektor-sektor ekonomi informal, seperti warung, tukang ojek, atau rumah kontrakan. TDE ini juga akan merembet terhadap munculnya sub-sub industri yang menyuplai langsung kebutuhan kawasan-kawasan industri. Penciptaan kawasan-kawasan pertumbuhan ini pada akhirnya melahirkan perputaran uang dalam volume yang besar.(diolah dari berbagai sumber)

Anggaran SMK naik jadi Rp 3,8 triliun


Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Depdiknas Joko Sutrisno, mengundang dunia industri untuk berkiprah dalam pengadaan peralatan praktik kerja seiring melambungnya anggaran SMK dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp 3,8 triliun pada APBN 2009. "Naiknya anggaran itu memungkinkan SMK menambah peralatan praktik dalam jumlah yang sangat besar, oleh karena itu kami akan membeli peralatan praktik untuk anak-anak SMK dalam jumlah besar-besaran," ujarnya.
Dia menjelaskan dari Rp 3,8 triliun anggaran yang ada, Rp 2 triliun diantaranya akan dimanfaatkan untuk membeli alat-alat praktik mulai dari mesin hingga komputer dan notebook. Anggarannya diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan peralatan praktik kerja bagi 5.000 SMK yang ada. Rinciannya dengan skala untuk SMK Rintisan Internasional mendapatkan dana Rp 600 juta, SMK berstandar nasional Rp 400 juta, SMK Rintisan Nasional Rp 300 juta dan SMK Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rp 250 juta.
Untuk mendapatkan bantuan tersebut, Joko meminta agar SMK mengajukan proposal ke pemerintah pusat dengan persetujuan pemda setempat. Saat ini sudah puluhan proposal masuk ke Depdiknas untuk memperebutkan kue bantuan pemerintah. Hal terpenting dari industri yang akan bergabung dengan SMK dalam hal penyediaan alat-alat praktik adalah bersedia memberikan harga yang murah, namun kualitasnya bagus.
"Soal merek tidak penting, asal harga murah meriah dan andal. Bahkan kalau memungkinkan, peralatan praktik tersebut dirakit bersama-sama dengan siswa SMK. Model pengadaan peralatan praktik seperti ini mampu menghemat anggaran hingga 50%," jelasnya.
Orientasi pembinaan SMK saat ini, lanjut Joko, adalah menyiapkan menjadi entrepreneur dan tenaga kerja kelas menengah yang mandiri. Dengan demikian, selain bisa mengisi berbagai lowongan pekerjaan yang ada, lulusan SMK juga bisa menciptakan lapangan kerja dengan membuka industri rumahan. (bisnis.com)

Rincian dana APBN 2009, 3,8 Trilliun
1. SMK Rintisan Internasional (SRI) Rp 600 juta,
2. SMK Berstandar Nasional (BN) Rp 400 juta
3. SMK Rintisan Nasional (SRN) Rp 300 Juta
4. SMK Rintisan Nasional (SRN) Rp 300 Juta
5. SMK Pelayanan Minimal (SPM) Rp. 250 Juta